Wednesday, December 9, 2015

Tidak Di Jual

Akhirnya saya sudah terlalu jengah dengan pertanyaan “kenapa nggak di jual?”

Pertanyaan sepele tadi kerap saya dengar dari orang-orang terdekat; sahabat, teman nongkrong, keluarga, mantan pacar bahkan gebetan. Sampai titik bosan atas pertanyaan itu, saya masih belum pernah puas menjawab dan seringnya tidak saya jawab. Tersenyum saja, berharap mereka selesai dengan pertanyaan yang sebenernya bukan sekedar iseng atau basa basi. Karena beberapa di antara mereka sangat serius dengan pertanyaan tadi. Mereka memikirkan nasib saya, mencoba mencari atau memberi solusi yang kadang positif.

Pertanyaan di atas ditujukan pada apa yang saya lakukan selama bertahun kebelakang, tentang apa yang saya buat sebagai musisi. Ya, hanya karena saya selalu membagikan hasil rekaman yang saya kerjakan siang malam dan tidak pernah menjualnya seperti musisi lain. Adakah yang salah dengan apa yang saya lakukan, karena tidak memikirkan income dari jerih payah, buah pikir dan kreativitas yang saya tumpahkan ke dalam setiap karya yang terekam, lalu saya sebar gratisan? Apakah saya memang harus menjual karya untuk menutupi biaya rekaman, untuk makan atau untuk membeli kopi rokok teman begadang?

Semua ini soal pilihan. Dan dalam kasus ini saya hanya setengah egois, bukan idealis. Saya memilih untuk tidak menjual, bukan karena saya orang kaya yang tidak butuh uang. Saya memilih untuk tidak menjual, bukan karena saya menganut sebuah faham atau etos pergerakan tertentu. Saya memilih untuk tidak menjual atas kesadaran murni, karena saya ingin berbagi. Mungkin hanya itu yang bisa saya lakukan, berbagi apa yang saya bisa hasilkan pada siapa saja yang menginginkan dan tulus mengapresiasi. Ada kepuasan di sana, ada nilai estetis yang saya rasakan ketika saya menyelesaikan sebuah karya dengan keringat dan uang pribadi lantas membagikannya. Meski hanya dalam format digital dan hanya beberapa pasang telinga yang mendengarnya. Dengan jenis musik yang saya buat, semua itu sudah cukup, dan hasil keringat saya tidak hanya sia sia.

Sekali lagi saya harus katakan, bahwa saya hanya ingin berbagi dan tidak ada maksud mulia saat melakukannya. Terlalu penuh kepala ini jika harus memikirkan soal jual beli, royalti dan segala hal yang berkaitan dengan kata niaga.. Saya juga harus tegaskan, saya tidak menolak bentuk kreativitas atau kolaborasi dalam cara apapun, asal hasil akhir dari semua itu tidak untuk tujuan komersil atau mencari keuntungan di atas karya. Tidak munafik, saya juga pernah menjual rekaman dengan tujuan tertentu. Misal untuk amal atau untuk mengembalikan ongkos produksi (penggandaan atu cetak sampul dan tidak termasuk biaya rekaman). Saya juga pernah menjual rilisan dalam format fisik dalam jumlah terbatas dengan kesepakatan antara saya dan label. Tidak ada keuntungan dalam kasus ini, dan jika saya berniat mencari keuntungan jelas tidak sebanding dengan proses produksi, dengan kata lain saya tetap merugi secara angka.

Ada keistimewaan tersendiri memang saat kita memegang rilisan kita sendiri dalam format fisik, tapi saya lebih suka format digital. Saya tidak suka bertele-tele dengan kemasan fisik yang ujung ujungnya selalu soal uang dengan dalih biaya prosuksi karena semakin sedikit jumlah penggandaannya akan semakin mahal ongkosnya. Inilah alasan saya selalu merilis karya melalui netlabel. Saya tidak bermaksud membandingkan mana yang lebih baik. Bagi saya poinnya adalah pendokumentasian karya yang terarsipkan dengan baik, entah fisik atau digital bukanlah permasalahan. Semua akan lebih baik ketika sesuai dengan porsinya, maksud saya adalah tidak mungkin jika saya menggandakan album dengan jumlah besar untuk menekan biaya produksi. Dan saya juga terlalu eksklusif untuk menggandakannya dalam jumlah terbatas dengan harga yang mahal.

Kurang lebih +200 tracks sudah saya bagikan melalui netlabel atau melalui file sharing di internet. Berapa banyak waktu, ide, tenaga dan uang untuk semua rekaman itu, yang dari kacamata dunia kapitalis saya rugi banyak. Saya tidak menjadi spesial karena telah melakukannya, saya hanya senang dengan apa yang saya capai. Andai saya menjual setiap rekaman yang saya hasilkan, tetap tidak akan mengembalikan modal yang saya keluarkan. Ya, pada intinya saya belum berpikir untuk menjual. Lebih baik saya membeli rekaman dari musisi lain dan menikmatinya sambil menyelesaikan pekerjaan serabutan, dan uang hasil bekerja bisa saya gunakan untuk biaya rekaman.

Hanya sekedar mengenali kapasitas diri atas apa yang saya kreasikan selama ini, jelas bukan untuk konsumsi masal. Dengan jenis musik yang saya buat agaknya terlalu berlebihan jika saya harus berpikir soal uang. Dan rencananya album penuh saya yang ke-dua (Volume III) akan dirilis tahun 2016, semoga tetap akan saya gratiskan melalui netlabel. Pandu Hidayat / Kontroljet (November 2015)

Wednesday, November 4, 2015

Deskripsi Alam Liar



Sabtu dini-hari, 19 September 2015. Saya mendapat pesan dari Aldi, teman sekantor yang sudah sangat sering membantu saya dalam pekerjaan. Isi pesannya berupa permintaan tolong, saya diminta untuk menemani anak magang dari India bawaan bos besar jalan-jalan ke tempat wisata alam. Awalnya saya menolak, selain karena sangat mendadak, saya juga baru pulang kemah satu minggu sebelumnya. Selain itu saya selalu malas bertemu dan beradaptasi dengan orang baru yang dipertemukan secara sengaja, apalagi orang India, pasti bertele-tele batin saya. Tapi setelah dijelaskan panjang lebar akhirnya saya bersedia membantu dengan ketentuan yang saya buat. Saya bukan pemandu wisata dan saya hanya sukarela melakukannya, dengan begitu saya tidak perlu merasa di bawah tekanan, karena ini bukan pekerjaan saya. Susah senang bukan saya yang tanggung tapi akan kami tanggung bersama. Kesepakatan pun terjadi, saya harus mengajak si anak magang itu ke suatu tempat hari itu juga.

Saya memiliki kebebasan menentukan tempat dan soal biaya semua ditanggung kantor. Saya bisa saja membawanya ke tempat wisata dengan segala fasilitas berprestise dan menginap di hotel berbintang. Tapi saya ingin yang lebih menantang dan memiliki kesan lebih. Yang ada di benak saya adalah berkemah, meski saya bingung mau membawa si anak magang ini kemah di mana. Dan terus berharap dia akan menyukai lokasi yang saya pilih.

Karena rencana yang sangat mendadak, saya mencari informasi tempat terdekat untuk berkemah di internet, sembari menyiapkan barang apa saja yang harus saya bawa. Namun saya menghindari jalur Puncak arah Cianjur, maklum akhir pekan banyak orang tamasya yang pastinya bikin macet. Dan jawabannya adalah Gunung Salak Endah atau lebih populer disebut Gunung Bunder, di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Selain aksesnya mudah, saya sudah hafal jalan menuju lokasi, dan setahu saya di sana tersedia beberapa camping ground dan banyaknya pilihan wahana wisata dalam satu kawasan. Dengan ketinggian awal mencapai 1050 mdpl, gunung ini tidak setinggi gunung lain, tapi  saya bisa jamin Gunung Bunder masih cukup dingin dan asri. Saya sedikit tahu, karena saya sering mampir begadang di warung kopi yang tersebar di area Gunung Bunder.

Saya bukan pendaki dan tidak memiliki alat berkemah, saya menyewa sebuah tenda, 2 sleeping bag, matras, kompor dan panci. Sedangkan soal makanan saya membawa bahan-bahan mentah, karena memasak sendiri di alam terbuka akan terasa lebih nikmat ketimbang beli di warung. Saya membawa beras, tempe, ikan asin, sayuran, bumbu masak, roti gandum, kopi dan teh. Tidak lupa makanan ringan untuk ganjal perut saat darurat dan 2 botol anggur pabrikan lokal. Semua barang dan makanan masuk dalam satu tas besar berukuran 75.5 liter.
Sekitar pukul 14:00 saya menjemput anak magang itu di stasiun. Di luar ekspektasi ternyata si anak magang ini cewek. Dan saya menyiapkan semua ini seadanya ala cowok. Saya sempat sedikit bingung, tapi saya tidak punya pilihan untuk membatalkannya begitu saja. Lantas saya menghubungi Aldi, tapi berulang kali saya telepon tidak juga diangkat. Sedikit panik, saya menghubungi pacar, saya ingin dia ikut dalam petualangan kecil ini. Tapi sayangnya pacar saya tidak ada jatah liburan akhir pekan, dan dia menyarankan saya untuk tetap melanjutkan perjalanan tanpanya. Setelah merasa lebih yakin untuk melanjutkannya, saya mulai percakapan perkenalan dengan si anak magang dan langsung membahas soal rencana perjalanan kami. Tanpa ada masalah, dia pun terlihat bersemangat untuk berkemah. Soal tempat akan kami pikirkan nanti, dan kami bergerak menuju Gunung Bunder dengan menempuh perjalanan sekitar 90 menit menggunakan sepeda motor. Dalam perjalanan saya sempat menawarkan untuk mencari tempat penyewaan tenda, agar kami bisa tidur di tenda masing-masing. Tapi dia bilang tidak perlu, terlalu repot mendirikan dua buah tenda untuk satu malam. Lagian tenda yang saya bawa sebenarnya cukup untuk tiga orang, jadi bisa kami beri batas tengah dengan tas.

Tak terasa kami sudah memasuki kawasan Gunung Bunder. Saya bertanya pada petugas, dan kami direkomendasikan untuk berkemah di area Curug Seribu. Kami langsung mengarah ke camping ground di area tersebut. Saya memilih tempat ini karena adanya toilet dan letaknya tidak jauh dari pos penjagaan, juga ada beberapa warung 24 jam, jadi saya pikir aman untuk perempuan. Meski sebenarnya saya tidak terlalu suka mendirikan tenda di camping ground, tapi saya tetap tidak punya pilihan karena sudah terlambat untuk mencari lokasi yang lebih tinggi. Pukul 16:00 kami mulai membuka tenda, saya memilih tempat paling ujung di sisi jurang karena masih banyak pohon besar, agar kami tidak perlu kepanasan dalam tenda di siang hari. Saat mendirikan tenda saya terus berpikir dan sedikit tidak percaya sedang bersama Shari si anak magang yang sama sekali belum saya kenal sebelumnya dan kami sama-sama amatir sebagai pecinta alam. Beruntung ini hanyalah camping ground dan dia bisa bekerja sama dengan baik, meski masih terlihat canggung.

Setelah tenda berdiri, kami berkeliling di hutan sekitar perkemahan untuk mencari kayu bakar. Api unggun saat berkemah adalah wajib, karena udara pegunungan di malam hari akan sangat dingin. Saya berhasil mengumpulkan banyak batang dan ranting kayu, Shari pun tidak segan membantu mengumpulkan dan membawa kayu bakar, entah karena perasaan tidak enak atau hal itu semacam petualangan menyenangkan. Entahlah, yang jelas tidak ada keluhan dari mulutnya sejauh ini.

Hari hampir gelap, saya membuat kopi dan membuat masakan untuk makan malam, sedangkan Shari menyusun api unggun. Selapas maghrib cuaca mulai terasa dingin, api unggun kami nyalakan sembari menikmati kopi hangat dan menunggu makan malam. Tidak sampai satu jam masakan saya sudah siap disantap dan soal rasa tidak perlu diragukan, karena saya ahli soal masakan. Hal ini terbukti saat Shari memberi komentar untuk masakan saya. Dia bilang masakan saya lebih enak ketimbang masakan ibunya. Agak berlebihan, tapi ya begitulah. Namanya di gunung, apa saja jadi terasa lebih nikmat. Padahal hanya sup sayuran dengan taburan ikan asin pedas dan tempe goreng. Atau mungkin saya benar-benar handal soal masak memasak. Mungkin saja.

Malam semakin gelap, hanya ada 5 titik api unggung terlihat di area camping ground yang saling berjauhan, sedangkan di seberang area kami berdiri belasan tenda yang berkelompok. Malam itu benar-benar sepi, hanya suara air sungai di dasar lembah dan suara-suara binatang di hutan yang bisa kami dengar, tidak ada suara musik dari mesin-mesin pemutar dan tidak ada suara bising kendaraan. Keheningan inilah yang mahal untuk saya, karena saya hanya menemukannya di sini di alam bebas seperti ini. Shari pun terlihat sangat menikmati malam ini dan terlihat asik di depan api sambil bercerita mengenai dirinya.

Shari adalah seorang mahasiswi yang sedang menyelesaikan jenjang S2 bidang penyutradaraan di salah satu perguruan tinggi di India. Untuk menyelesaikan tugas kampus, Shari melakukan penelitian dalam sebuah produksi film di Indonesia. Sudah tiga bulan Shari tinggal di Jakarta, mengikuti beberapa produksi film untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Sari banyak bercerita tentang pengalamannya di Indonesia dan membandingkannya dengan apa yang dialaminya di Negerinya. Karena saya sempat terlibat dalam dunia perfilman, saya sedikit banyak menyerap ilmu dari cerita-cerita Shari tentang proses kreatif yang dijalaninya. Dan saya kira Shari adalah orang hebat yang akan menjadi sutradara hebat kelak.

Cerita demi cerita mengisi keheningan dan rasa dingin yang semakin menjadi, sampai kami sadar bahwa persediaan kayu bakar menipis. Akhirnya saya putuskan untuk kembali masuk ke hutan untuk mencari kayu bakar sendirian, sedangkan Shari saya perintahkan untuk memasak air panas untuk membuat kopi atau teh. Tanpa rasa takut saya berkeliling hutan yang mulai lembab berselimut embun, batang ranting kayu sudah sedikit basah, tapi saya terpaksa mengambil apa saja yang bisa saya bakar. Paling tidak bahan bakar harus cukup sampai kami bosan di depan api unggun.

Di dalam hutan yang berjarak ratusan meter dari tenda, saya mendengar suara seorang wanita sedang menangis di area perkemahan. Awalnya saya mengira itu adalah suara orang-orang yang sedang tertawa, tapi lama kelamaan saya yakin kalau suara itu tidak normal. Akhirnya saya putuskan untuk kembali ke tenda membawa kayu bakar yang saya kumpulkan. Saat sampai di tenda, Shari tampak ketakutan dengan suara tangisan yang berasal dari seberang area camping ground kami. Saya mencoba tetap tenang agar Shari tidak menjadi panik, dan saya mencari tahu apa yang terjadi di sana. Saya kembali meninggalkan Shari sendirian, menghampiri tenda-tenda yang berkelompok. Dalam keremangan terlihat hiruk pikuk terjadi di antara tenda-tenda yang berkelompok itu, sampai akhirnya saya menyaksikan puluhan orang, khususnya wanita sedang mengamuk, menjerit dan menangis. Saya langsung dapat menyimpulkan bahwa mereka sedang kerasukan. Semakin lama, satu persatu dari mereka kehilangan kendali, berteriak kesakitan dan selanjutnya meraung-raung. Sedangkan orang-orang lainnya yang masih tampak sadar mencoba membantu teman mereka yang kerasukan. Saya hanya bisa melihat, sedikit ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa.

Tidak lama saya sudah kembali ke tenda dan menjelaskan apa yang terjadi pada Shari, mencoba membuatnya tidak panik. Dari depan tenda, kami bisa melihat satu persatu dari mereka dibawa keluar dari area perkemahan untuk diberi pertolongan oleh pengurus perkemahan dan warga setempat. Dari kejauhan kami masih bisa mendengar suara jerit kesakitan yang mayoritas adalah suara perempuan. Hal ini terjadi hampir 2 jam, sampai kami hanya bisa diam kebingungan. Entah apa penyebabnya, tapi saya menyimpulkan bahwa kejadian semacam ini akan mudah terjadi saat kita tidak bisa mengendalikan diri. Mereka terlibat perasaan yang berlebihan, senang berlebihan dan tidak sadar bahwa mereka berada di alam liar, tempat yang mungkin asing untuk dikendalikan bagi jiwa-jiwa yang kosong. Beruntung saya dan Shari tidak terlibat suasana mencekam itu dan tetap mampu berpikir untuk segala kemungkinan terburuk. Sebelumnya saya juga sudah memberi peringatan dan peraturan tidak tertulis pada Shari saat berada di gunung, ya apapun bisa terjadi di sini. Yang terpenting adalah menjaga sikap dan ucapan. Selalu ada hal yang tidak terukur di alam liar.

Pukul 22:00, lambat laun suara-suara itu hilang dan keheningan kembali datang. Saya membuka botol anggur yang saya bawa, berbagi gelas bersama Shari sambil bercerita di depan api unggun. Sedikit menghangatkan badan di saat rasa dingin mulai menusuk tulang. Tak terasa 2 jam berlalu, dan kami mulai merasa lapar. Kami memasak mi instan dengan sayuran segar, dan langsung menyantapnya saat masih panas. Lagi-lagi masakan sederhana ini terasa sangat nikmat, mungkin karena cuaca, tempat dan prosesnya yang membuatnya menjadi terasa berbeda kalau kita memasaknya di dapur rumahan.

Lepas 12 malam, kami sudah kenyang dan sedikit mabuk di botol kedua. Kami mulai sadar bahwa kami sudah merasa lepas dalam berkomunikasi, saya mulai terbiasa mendengar Shari berbicara bahasa Inggris berlogat India. Tidak ada rasa canggung karena baru saling mengenal, atau mungkin ini akibat alkohol. Entahlah, mungkin hanya perasaan saya saja yang terlepas dari beban yang saya pikirkan. Sampai akhirnya api unggun meredup dan kayu bakar sudah habis, penerangan yang ada hanyalah lilin di antara bebatuan depan tenda kami. Sedangkan lampu LED untuk penerangan di dalam tenda. Saat masih asik mengobrol, cuaca menjadi semakin dingin, angin semakin kencang dan embun menebal sehingga rerumputan mulai benar-benar basah. Akhirnya kami putuskan untuk masuk ke dalam tenda, meski rasa kantuk masih jauh dari mata.

Dengan penerangan seadanya yang menggantung di langit-langit tenda dan beralaskan sebuah sleeping bag kami melanjutkan perbincangan di dalam tenda. Menceritakan apa saja yang ada di kepala, sampai cita-cita Shari untuk kembali datang ke tempat ini dan membuka tenda bersama kekasih yang akan menikahinya setelah Shari menyelesaikan studi. Mendadak saya teringat pacar saya yang tidak pernah sekalipun saya ajak jalan-jalan. Bukan karena waktu atau kesibukan masing-masing, tapi kami memiliki hobi yang berbeda, dia lebih suka pergi ke keramaian dan saya benci itu.

Waktu sudah larut, Shari mulai merebahkan diri dalam kantung tidurnya. Tugas saya adalah menghabiskan sisa botol kedua, dan terpaksa merokok dalam tenda karena di luar sudah terlalu dingin. Kami berhenti berbicara, Shari terlihat sudah memejamkan mata, sedangkan saya sadar bahwa jadwal tidur yang belum tiba. Botol kedua pun habis tanpa sisa, saya kembali merokok dan menyelami keheningan. Meskipun jaket yang saya pakai cukup tebal, namun masih terasa udara dingin yang luar biasa mengepung tenda kami. Saya juga mulai merebahkan diri, mencoba tidur tanpa sleeping bag. Saat mulai memejamkan mata, saya mendengar suara asing persis di sisi belakang tenda kami. Seperti suara seorang wanita yang sedang menertawakan saya yang ingin tidur, sesekali saya juga mendengar suara gesekan, seperti ada yang menggaruk dinding tenda. Suara-suara ini membuat bulu kuduk berdiri, jujur saya ketakutan dan tidak berani keluar untuk memastikan apa yang terjadi di luar. Suara itu menghilang saat sayup-sayup adzan Subuh terdengar dari sebuah pengeras suara di balik lembah.

Shari terjaga mendengar suara adzan itu, saya mendengar gerakannya membuka sleeping bag dalam kegelapan. Beberapa menit kemudian sleeping bag itu sudah berubah fungsi menjadi selimut, menutupi badan saya yang setengah beku. Saya hanya diam, bergumam dalam hati. Berterimakasih pada apa yang Shari lakukan, kebaikan kecil yang sangat menolong karena dia rela berbagi selimut. Meski saya sudah tidak merasa kedinginan, saya tetap tidak bisa terlelap dan hanya memikirkan hal-hal acak yang datang silih berganti dalam otak. Ini akibat kebiasaan saya di rumah yang tidak pernah tidur sepanjang malam. Sedikit tersiksa, tapi saya menikmati setiap detik keheningan dan pikiran-pikiran yang ada.

06:00 Minggu pagi, Shari sudah bergegas keluar tenda, sementara saya masih nyaman dalam selimut. Mungkin Shari pergi ke toilet atau entah apa yang dilakukannya di luar. Dan saat saya keluar tenda, dingin masih sangat terasa, namun tidak lagi menusuk-nusuk tulang, melainkan sangat segar untuk dihirup. Pagi di pegunungan adalah hal yang selalu saya rindukan. Sambil menunggu Shari, saya menyeduh kopi panas dan memanggang roti gandum kacang hijau untuk sarapan. 

Jadwal kami setelah sarapan adalah pergi ke air terjun. Dari perkemahan terdapat tiga jalur menuju tempat yang berbeda, pertama jalan menuju Curug Seribu, yang ke dua menuju Curug Muara, sedangkan jalur satunya menuju Kawah Ratu, juga bisa dilanjutkan ke Puncak Salak. Saya bertanya pada teman-teman lain yang berkemah yang kebetulan pernah trekking ke tiga tempat tersebut. Curug Seribu memiliki jarak tempuh sekitar 1 jam, dan Curug Muara dapat ditempuh hanya sekitar 30 menit, sedangkan Kawah Ratu butuh sekitar 3 Jam atau 5 sampai 6 jam berjalan kaki menuju Puncak Salak jika tidak tersesat. Karena saya belum cukup tidur, saya putuskan untuk melakukan perjalanan terdekat, yaitu Curug Muara. Kami langsung berbenah, menyiapkan apa saja yang harus kami bawa dan meninggalkan barang lainnya di tenda.

Melewati jalan bebatuan, kami bisa melihat indahnya hutan di setiap sudut yang kami lalui. Sedikit menanjak dan lebih banyak jalan menurun, semakin jauh ke dalam hutan semakin ekstrim menuju lembah. Saya juga sempat melihat beberapa ekor kera dan burung liar di atas pohon. Sampai akhirnya kami mendengar suara air terjun dan deras air sungai dari kejauhan saat menuruni anak-anak tangga yang tersusun rapi di antara tebing yang saling berhadapan. Saya melihat beberapa air terjun kecil di seberang tebing yang kami lewati saat menuruni anak tangga, dan semakin jauh ke bawah saya semakin takjub dengan apa yang saya lihat dengan mata telanjang.

Saat melewati jembatan kayu, tepat di bawah saya adalah pertemuan dua aliran sungai. Sungai pertama adalah aliran dari Curug Muara, sedangkan aliran sungai lainnya mungkin berasal dari Kawah Ratu yang berada di balik bukit, karena sungai itu berwarna campuran antara kuning keemasan dan oranye. Sedikit cerah. Sedangkan di sudut lainnya sudah tampak air terjun yang sangat tinggi, sekitar 100 meter. Air terjun itu bernama Curug Muara. Saya tidak pandai menggambarkan keindahan alam semacam ini. Saya hanya takjub, ketika refleksi sinar matahari terpantul dari air yang sangat jernih, seperti cermin berkilauan. Dan dingin air sungainya benar-benar juara. Segar!

Tanpa pikir panjang kami bergegas menuju air terjun menyusuri sungai. Hanya ada beberapa orang saja yang terlihat sedang berada di air terjun itu. Shari sudah tidak sabar bermain air, sedangkan saya masih terkesima oleh keindahan yang ada di depan mata. Saya tidak berani turun ke air untuk mandi, karena dinginnya luar biasa dan saya juga merasa kurang sehat pagi itu. Saya hanya menyaksikan Shari yang asik bermain air di aliran sungai. Tiba-tiba saya teringat sebuah film dokumenter tentang sungai Gangga di India, yang masih asri di hulu dan sudah sangat beracun di hilir. Dan saya yakin hal ini juga terjadi pada sungai ini, semakin jauh alirannya, semakin banyak pula sampahnya. Tapi untuk di kawasan Curug Muara, saya lihat cukup bersih karena tersedianya kantung-kantung sampah, meski masih ada pengunjung yang buang sampah sembarangan, juga masih ada orang yang mandi menggunakan sabun dan gosok gigi mencemari sungai. 

Setelah puas bermain air, dan berganti pakaian Shari kembali menikmati pemandangan yang ada sambil berkeliling di sekitaran sungai. Saya sendiri hanya berbaring di batu besar menghadap air terjun tinggi itu. Tanpa sadar pengunjung lain mulai berdatangan. Meskipun di hari minggu tempat ini terbilang sepi, tidak seperti air terjun lainnya di kawasan Gunung Bunder. Curug Muara masih sangat tenang, dan kami menikmatinya sampai siang datang. Akhirnya kami harus kembali pulang menuju tenda untuk makan siang, kali ini kami harus mengeluarkan tenaga ekstra karena trek yang lebih banyak menanjak.

Matahari di sekitar perkemahan berada di atas kepala, beruntung tenda kami di bawah pohon rindang. Tanpa buang waktu beristirahat kami mulai memasak untuk makan siang, tapi kali ini Shari yang pegang kendali sedangkan saya menjadi penonton. Sekitar 1 jam, makan siang sudah bisa kami santap. Karena sudah sangat lapar, kami tampak sangat lahap seperti orang yang kekurangan makan. Soal rasa, Shari belum mampu menandingi kepiawaian saya soal masak memasak. Tapi karena lapar, bolehlah.

Perut kenyang dan semilir angin pegunungan di siang hari adalah kombinasi yang serasi, membuat mata saya mendadak berat. Karena sedikit lelah setelah trekking ke air terjun, akhirnya saya bisa tidur nyenyak meski hanya beberapa puluh menit. Sedangkan Shari malah asik berkeliling di sekitar perkemahan yang cukup ramai dilintasi para pengunjung. Entah apa yang ada di kepalanya, yang jelas saya harus mengumpulkan tenaga untuk perjalanan pulang di sore harinya.

Minggu sore 16:00, kami mulai merapikan barang-barang agar kami bisa turun gunung sebelum gelap datang. Terasa berat kaki ini menuruni tangga demi tangga dan jalan berbatu menuju tempat penitipan kendaraan. Bukan fisik saya yang lelah, tapi saya masih betah berada di tempat ini. Tempat yang tenang, orang-orang yang bersahabat, udara segar, dan pastinya jauh dari hiruk pikuk. Saya hanya bisa berharap dapat sesering mungkin menginjakkan kaki di tempat semacam ini.

Kami meluncur menuju stasiun, dan tiba saat gelap datang. Saya hanya mengantarnya sampai pintu luar, karena perjalanan saya masih lumayan jauh. Shari terlihat puas dengan petualangannya, dia pun berkali-kali mengucapkan terima kasih karena saya sudi menemaninya. Sebelum masuk ke dalam stasiun Shari memberi saya sebuah amplop berisi uang. Entah berapa jumlahnya, saya langsung mengembalikan amplop itu. Mungkin uang itu untuk membayar jasa, tapi sayangnya saya tidak sedang menjual jasa, saya baru saja pulang tamasya dan rasa senangnya belum tentu terbayar oleh isi amplop itu. Shari sedikit kebingungan, lantas dia bilang akan mengundang saya untuk ngobrol-ngobrol jika sedang ada waktu luang. Saya pergi meninggalkan stasiun dan bergumam dalam hati, jangan undang saya datang ke kota, karena saya akan tampak kampungan di hadapan orang-orang kota. Undang saya untuk datang ke alam liar, karena saya ingin bertemu Tarzan.

Pandu Hidayat (September 2015)

Sunday, August 30, 2015

Tembok & Diary

Dapatkah aku bercerita kepadamu,
bahwa kelak semua kisah ini akan terjadi.
Dapatkah aku bercerita kepadamu,
bahwa esok adalah matahari tak bercahaya.
Dapatkah aku bercerita kepadamu,
bahwa semua ini adalah susunan misteri.
Dapatkah aku bercerita kepadamu,
bahwa segala perubahan ini menuju sempurna.

Abjad, simbol, teori dan tragedi,
membaca waktu bersejarah.
Abjad, simbol, teori dan tragedi,
membaca waktu bersejarah.

Pada aksara terlahir kata serapah berwarna merah.
Pada suku kata terbangun kalimat hidup bermakna ganda.
Pada alinea terhubung bait-duka cerita luka nestapa.
Pada dinding hitam peradaban budaya massa, aku murka.

Abjad, simbol, teori dan tragedi,
membaca waktu bersejarah.
Abjad, simbol, teori dan tragedi,
membaca waktu bersejarah.


*Tembok & Diary
panduhidayat_30-08-2015

Saturday, August 15, 2015

Before The Sun

I believe in coffee, because the sweetness and bitterness is honesty.
I believe in friendship even though it was always nonsense.
I believe in love, as I believe in the arts and humanities.
I always believed in you but no more than I trust myself.

I dont care about freedom, because I am freer than freedom.
I wish for a justice even though I know will never exist.
I gave up on the morning dew, because I missed the warmth of the sun.
I'm going to run over time not to meet destiny, but look for what is supposed to be.

I haven't got a home, dont have a title and I dont have what you have.
I am not as fortunate as they are of the class of wealthy offspring.
but I enjoyed every second in poverty and life without ever respected.
I wasn't as poor as the material that I have and I learned for the rich soul.

Friends and loved ones only when they need each other. Then, what is the meaning of friendship?

Maybe I'm depressed, but more than that I observe you. How to live life, friendship, communicating, keeping promises, respect and humility.
We have to learn about all of it. learning again, learning to be human.

before the sun
panduhidayat_09.08.2015

Thursday, January 8, 2015

Seperempat Dekonstruksi

Deru mengendus derap bercakap santun tak senonoh. Begitupun sunyi selalu malu berkata pada setiap jerit gergaji mesin bergigi tumpul. Aku malu terhadap engkau pucat - sialan sekali kau mempermalukanku setengah putaran. Sungguh tak perlu ada koma saat kisahmu begitu sampah soal norma paranada. Berhala tahu semua kita bercita-cita bahagia seumpama di ujung dunia jembatan rubuh. Ya aku tahu maksudmu berdoa agar dunia tidak mendadak tumpah di atas dosa. Egoismu mendekati kawah magma ubun-ubun yang meleleh busuk meludah-ludah bukan kepalang absurd. Kau terlalu pucat sekalipun ini bukanlah ibu kota dengan keseriusan urban penuh cacat. Mari kita rapalkan A hingga Z lantas kesurupan huruf terakhir di keriput dubur. Terang saja aku gila menguping percakapan buah dan sayur seromantis itu pagi ini. Mengemut puntungan menumpahkan zat asam luka tukak lambung sedikit hangat. Semacam rongsokan besi tua dan puing-puing avantgarde tersenyum murka dalam tubuh instalasi semi mutakhir. Tanah tinggal sampah bercampur amis darah menggigit belatung kuburan kontrak. Menakjubkan seisi dunia maya menjadi semakin organik berlipat kertas kusam tertimpa efek panorama. Aku hanya tak kuasa menyaksikanmu selfie kecepirit lalu berduka di balik koridor. Siapa yang menjadi sarapanku tentu bukanlah kau kawanku ekosistem. Emm tak disangka listrik padam baterai diambang wafat kemudian seisi dunia menjadi muram tanpa dialektika kerdil terkoordinir. Hilang sudah eksistensi para intelektual muda ketika kau mulai cerewet di atas mimbar. Dindingnya retak bersegi-segi atap mengangkat ubin terpenggal acak terlilit dasi. Alangkah anggun karya buatanmu melebihi kolase Hannah Höch yang manis itu. Aku cemburu terhadapmu wahai pucat - sedikit vitamin kupersembahkan untukmu dari ladang sintetik. Kunyah:

c d e f g h i j k l m n o p q r s t q r s t u v w x y z u a b c d e f g h i j k v w c d e f g h k l m n o p q r s i j k l m n x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m r s t u v w x q r s t u n o p q r s t u v w x b c d e f w x y z a b c d e f g h i j k l m f g h i j k l m n o n o p q r s v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p m n o p q w x y z a b c d e f g h r s t u v w x q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t y z a b c d e f g h i j k l m n o p u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m j k l m n o p q r s t u n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q o p q r v r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t q r s t u v w x y z a b c d e f u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l s t u v w x y z m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a n o p q r s t u v w x b c d e f g h i j k l m n o p q r v s t u v w x y z a b c h i j k l m n o p q r s d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b n c d e f g k h i j k x l m n o p q r s t u j v w k l m n o t u v w x y a b c d e f g h i j k l q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t y z a b c d e f g h i z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w a b c d e f g h i j k l m j k l m n o p q r s t u n o p q r s t u v w g h i j k l s t u v w x x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c x l m n o p q r s t u v w x y z d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t q r j k l m n o p u v w x y y z a b c d e f g x l m n o p q r s t u v w x y myakyi znak
PanduHidayat
08.01.2015
Download PDF

Tuesday, December 16, 2014

Penyembah Sepi

Ah, sungguh membosankan malam ini, tidak ada yang dapat kukerjakan selain memandangi setiap sudut ruangan ini, hanya menikmati wine dan menghabiskan berbatang rokok, membuang-buang waktu sampai pagi datang. Sebaiknya aku menceritakan sedikit kisah tentangku, ya lebih baik aku mencoba menuliskannya menjadi sebuah cerita. Kelak suatu saat ada yang membacanya, mungkin kamu atau mungkin aku sendiri yang akan membacanya. Entahlah, aku hanya tidak ingin malamku terlewatkan sia-sia tanpa menghasilkan apa-apa.

Aku hidup seorang diri di sebuah apartemen yang kudapatkan dari seorang kaya yang pernah kuselamatkan nyawanya, tapi aku tidak akan menceritakan kisahnya, karena aku tidak terlalu megenalnya. Aku juga tidak ingin mengenangnya, dan pasti dia sudah bahagia di sana. Aku tidak memiliki keluarga lagi ketika aku bertemu orang itu. Dan mendapatkan sebuah apartemen dan segala fasilitasnya adalah sebuah keberuntungan yang tidak pernah kuimpikan dalam hidup.

Luas ruangan ini setara dengan rumah tiga kamar dan ruangan-ruangan lainnya, tapi tempat ini telah aku rombak dari keadaan semula, tidak ada lagi tembok-tembok penyekat ruangan. Bahkan tak ada sekat untuk kamar mandi, aku hanya memberinya batas dengan batu-batu granit, tirai bambu dan tanaman hias, begitupun dapur miniku untuk sekedar membuat minuman hangat dan makanan ringan. Sedangkan ruang tidur, ruang kerja dan ruang untuk melakukan seluruh kegiatanku semua menyatu tanpa sekat. Ruang apartemen ini menjadi semakin luas, dan aku menjadi lebih nyaman berada di sini, sendiri. Sudah tujuh tahun aku berada di sini, dan tidak pernah sekali pun aku keluar meninggalkan tempat ini, bahkan hanya untuk satu langkah.

Pasti anda tidak percaya dan menganggapku memiliki masalah dengan kejiwaan, mungkin anda benar, tapi aku merasa baik-baik saja dan bahagia menjalaninya. Aku hidup selama ini hanya bergantung pada bisnisku yang kujalankan secara online. Tidak ada yang mengetahui keberadaanku, tidak teman atau siapa pun, kecuali seorang kurir yang kupercaya untuk mengantar dan mengambilkan sesuatu yang kubutuhkan. Orang itu pun tidak mengetahui siapa sebenarnya aku ini, juga sebaliknya. Dia adalah pegawai yang kugaji lebih setiap bulannya, dengan catatan tidak perlu turut campur dengan apa yang kukerjakan dan merahasiakan tentang semua ini.

Tujuh tahun bukan waktu yang singkat, banyak yang berubah di luar sana dan aku tidak lagi mempedulikannya. Semua sudah tidak penting untukku, satu-satunya hal yang membuatku kesulitan adalah ketika terserang penyakit. Aku terpaksa menyiapkan banyak obat, untuk sekedar berjaga-jaga, beruntung sampai detik ini kesehatanku baik-baik saja karena aku rajin berolahraga dan menjaga pola hidup dengan baik. Semua bisa kulakukan di ruangan ini, apartemen yang kutempati sejak usiaku baru menginjak dua-puluh.

Aku bukan pemurung, semua ini kulakukan karena kebetulan dan pada akhirnya menjadi rutinitas untukku, aku merasa bebas dalam ruangan ini, sangat bebas dan aku tidak ingin melepas kebebasanku di luar. Aku adalah seorang wanita muda yang cantik dan penuh semangat. Sebelum aku berada di sini, aku adalah seorang model. Tapi aku lebih memilih hidup seperti ini tanpa kepura-puraan yang selalu menuntutku tampil sempurna, aku tidak benar-benar menyukai dunia modeling dan sebenarnya aku hanya mencoba-coba.

Di suatu malam, sepulang melakukan show, aku menemukan seorang pria tua tergeletak di lobi gedung tempatku bekerja, tanpa seorang pun tahu. Aku membawanya ke rumah sakit dan ikut merawatnya, karena tidak ada kerabatnya yang bisa kukabari. Setelah itu, tanpa panjang lebar pria tua itu mewariskankan apartemen ini, kemudian ia meninggal karena terkena serangan jantung saat terpeleset di kamar mandi rumah sakit. Hanya itu yang kutahu tentangnya, dan sebenarnya aku tidak ingin mengingat kejadian itu. Yang jelas dia orang baik, dengan akhir hidup mengenaskan tanpa keluarga yang mendampinginya. Tapi sudahlah, itu kisahnya. Lupakan saja.

Selain menjalankan bisnis online untuk tetap bisa bertahan hidup, aku mengisi hari-hariku dengan melukis, hampir setiap saat aku melakukannya. Melukis adalah hobi sejak kecil dan kurasa aku memiliki bakat yang kuat, entah dari mana bakat ini kumiliki. Beberapa karya lukisku pernah laku terjual, aku memiliki kenalan seorang kolektor di dunia maya, setelah aku memperlihatkan beberapa foto lukisan yang kupajang di situs pribadiku, dia tertarik untuk membelinya. Hingga saat ini komunikasi kami masih baik, dan kadang setiap bulannya aku dapat menjual dua sampai tiga lukisan. Lukisan lainnya hanya kunikmati sendiri di ruangan ini, hampir setiap sudut sudah penuh dengan lukisan dan gambar-gambar yang kubuat sepanjang aku menempati tempat ini.

Aku juga memiliki hobi lain, aku senang mendengarkan musik. Aku memiliki beberapa alat musik, hanya sekedar untuk bernyanyi dan bersenang-senang, karena aku tidak ahli untuk memainkannya. Beberapa lagu juga pernah aku buat dan merekamnya sendiri di ruangan ini. Aku melakukan apa saja yang membuatku senang, apa saja yang dapat mengusir rasa jenuh ketika kebosanan menyerangku. Membaca buku, bermain game, menonton film, kadang juga menulis. Semua itu kulakukan sebagai rutinitas hidup yang menyenangkan. Tapi aku tidak terbiasa menulis seperti ini.

Dalam hal bersosialisasi dengan banyak orang, aku memanfaatkan berbagai jejaring sosial yang banyak tersedia. Tentu dengan nama samaran, aku dikenal sebagai “Penyembah Sepi”, itulah nama yang kupakai untuk setiap akun jejaring sosial. Aku memiliki banyak teman, dan mereka memanggilku Sepi. Bahkan aku memiliki beberapa sahabat, yang bertahun-tahun tetap intens berbagi kabar dan informasi tentang segala perkembangan. Tapi mereka semua tidak ada yang mengenali dan mengetahui siapa sebenarnya aku, juga bagaimana kehidupanku.

Aku mengaku seorang yang selalu berpindah tempat dari waktu ke waktu. Ini adalah caraku untuk menghindari pertemuan dengan teman atau sahabatku. Banyak di antara mereka yang kecewa karena tak kunjung bisa menemuiku, bahkan beberapa orang memberikan perhatian lebih dan terang-terangan menyukaiku. Mereka hanya sedang terjebak imej palsu yang disadarinya sebagai kebenaran. Semua ini tentang dunia yang tidak nyata, lantas ketika seseorang berharap lebih, maka dia akan tenggelam dengan harapan yang dibawanya dalam kehidupan nyata.

Aku tidak jahat dalam hal ini, aku hanya sedang berperan sebagai Penyembah Sepi, bukan diriku yang sebenarnya. Perihal mereka tidak mengetahuinya, itu bukan urusanku. Tapi aku tetap menganggap mereka sebagai teman dan sahabat yang mengisi satu sisi hidupku yang lain. Dalam kehidupan nyata, aku sama sekali tidak membutuhkan kehadiran mereka. Apakah aku tidak merasa kesepian? Tidak! Aku sudah terbiasa, menikmati sepiku dengan kedalaman, bahkan aku hampir tidak faham bagaimana sepi yang anda maksud.

Apakah kesepian karena tidak memiliki seorang kekasih? Atau mungkin anda mengira, aku pernah dikhianati dan memutuskan hidup seperti ini? Tidak! Justru sebaliknya, aku sering membuat pria patah hati. Aku tidak pernah menyesali apa yang kulakukan dulu dan apa yang kujalani sekarang. Semua adalah cerita yang akan menjadi sejarah, kehidupan yang akan terus berjalan sampai kita kehilangan nafas di dunia ini. Aku siap menghadapi kematianku di tempat ini, lebih baik tidak ada yang tahu sampai waktu mengurai daging-daging dan kulitku, mengelupas menjadi tengkorak yang anggun. Ah apa yang sebenarnya aku katakan ini, aku masih muda untuk sebuah kematian.

Apakah anda mencurigaiku berbohong dan bersandiwara dengan kisahku ini? Percayalah, ini adalah diriku yang sesungguhnya, tapi maaf aku tidak bisa menyebutkan nama dan identitas asliku. Seperti yang anda tahu, aku tidak mungkin melakukannya. Aku tidak ingin ketika cerita ini tersebar, dan sampai ketangan anda, kemudian anda memiliki niat untuk menghampiriku. Ah tidak, aku hanya bergurau, rupanya aku sedang sangat percaya diri malam ini. Hanya saja konsentrasiku sedikit terganggu dengan lukisan yang berada di hadapanku, sosok pria muda yang elegan, entah siapa dia dan bagaimana aku bisa begitu saja melukiskan wajahnya.

Sebaiknya aku lanjutkan kisahku. Beberapa menit lalu aku istirahat sejenak, menghabiskan sebatang rokok di ruang terbuka, semacam balkon. Itulah satu-satunya tempat untuk bertemu udara segar dan sinar matahari. Aku menatanya dengan indah dan asri, juga tanaman-tanaman segar. Aku memang memperhatikan setiap sudut ruangan ini agar tidak membosankan, aku tidak terbiasa berdiam diri, aku selalu ingin bergerak walaupun di ruang yang terbatas ini. Salah satunya dengan mengganti model tata ruang, yang hampir setiap bulan kulakukan. Paling tidak aku bisa memindah tukarkan posisi lukisan satu dengan lukisan yang lain, atau sekedar mengganti tanaman yang sudah mulai layu.

Mungkin anda mengira aku seorang seniman atau pelukis. Bukan, semua itu hanya hobi, hobi menenggelamkan diri dengan ide-ide dan berenang dalam keindahan visual. Aku menemukan imajinasi yang tidak pernah berujung ketika menghadapi lembaran kanvas, mengaduk-aduk cat dan menggoreskan garis-garis. Dan sejujurnya, aku tidak pernah menyelesaikan setiap ide di atas sebuah kanvas. Ya, lukisanku tidak pernah selesai, ini hanya bagian terkecil dari konsep seniku. Sedangkang gagasan awal setiap karya banyak kudapatkan dari bait-bait lagu atau musik instrumental, menyelaminya kemudian menafsirkannya kembali dengan perspektifku sendiri. itu saja.

Komposisi Untuk Saya

Warm..warm..warm..leatherette..warm..warm..warm..leatherette...........................................before you die.......warm...leatherette!* berulang kali nada-dering itu terdengar dari telepon genggam yang diacuhkan oleh pemiliknya. Bahkan membuatnya semakin asyik membaca novel bersampul merah darah. Setelah berjam-jam lamanya, akhirnya novel itu selesai ia baca dan dengan bermalas-malasan tangan kirinya meraih telepon genggam yang terletak di atas meja, di antara tumpukan buku yang tidak tertata. Kemudian ia mulai membaca satu-persatu pesan singkat yang juga sudah menumpuk.

“Temui aku sore ini,” isi salah satu pesan.

Pesan itu terabaian hampir 3 jam. Dengan cekatan jarinya menekan tombol-tombol dengan tergesa. Cepat seperti sudah sangat terlatih. Tidak seperti juru ketik di kelurahan.

“Aku siap-siap dulu ya.”

Detik kemudian, telepon genggam itu bergetar lagi, “Ya, aku tunggu!”

Kebetulan tempat biasa mereka bertemu tidak jauh dari rumahnya. Semacam kedai dengan taman buatan yang menyatu dengan galeri seni milik seorang perupa. Cukup dengan berjalan kaki untuk sampai ketempat itu. Setelah menginjakkan kaki di rerumputan yang menghampar pada hampir seluruh area taman, matanya tertuju pada sebuah meja paling pojok. Seorang lelaki sibuk membolak-balik halaman koran terbitan lokal yang ada di meja dan baru saja menatap kearahnya. Namanya Anda.

Saya tersenyum dan melambaikan tangan, lelaki itu membalas senyum manis dari sosok wanita yang sore itu mengenakan kaos hitam bergambar RA Kartini dengan tulisan provokatif di bawahnya ‘She’s Not Your Mother’ tampak dari balik kemeja flannel merah-hitam yang tak dikancingkan. Potongan Jins super pendek warna abu, stocking hitam dan boot kesayangannya. Tidak lupa tas kulit yang selalu dibawanya untuk menaruh buku kosong dan barang-barang penting. Rambut panjangnya tergelung cantik dengan satu tusukan pinsil berwarna kayu. Lebih cantik dari cetakan gambar di kaos itu. Bahkan tanpa berdandan.

“Sori..sori,” suaranya mendekat.

Anda adalah sahabat Saya sejak sekolah dasar hingga menyelesaikan kuliah di Universitas yang sama. Saya pernah tercatat sebagai seorang mahasiswi sastra, sedangkan Anda menekuni bidang seni rupa. Mereka tercatat sebagai mahasiswa berprestasi dan kreatif. Bahkan keduanya menyelesaikan kuliah dengan uang beasiswa.

Tak lama Saya sudah duduk berhadapan dengan Anda di meja yang sama, sekeliling hanya terlihat pepohonan dan tanaman bunga yang segar terawat, satu sisi lainnya berhadapan dengan jalan yang sepi di jantung kota. Hanya pejalan kaki yang sering terlihat melintasi jalanan lengang itu. Begitu tenang dan menyegarkan suasa, karena sang pemilik cukup jeli mendesain taman ini sedemikian rupa. “Tidak hanya demi kenyamanan tapi lebih kepada estetika” sebut sang pemilik. “Taman ini adalah karya tiga dimensi” dengan penekanan yang berlebihan ketika ia mengatakannya.

Saya memulai pembicaraan dengan perasaan sungkan, gestur tubuhnya mengisyaratkan rasa bersalah karena terlambat membaca pesan Anda sedari siang. 

“Sudah lama ya? Aku sedang membaca novel tadi!”

“Ah selalu, novel apa yang kamu baca kali ini?”

“Konflik kaum kiri yang berujung pada pembunuhan massal.. Bagus, penulis novel itu cukup cerdas mempermainkan emosi pembaca masuk kedalam detail, selain karena kisah nyata.”

Sebenarnya Anda tidak terlalu tertarik mengetahui isi novel itu lebih-lebih politik, dan pertemuannya dengan Saya kali ini tidak untuk membahas novel itu. Dia hanya bersikap antusias untuk memuaskan sahabatnya.

 “Boleh aku pinjam?”

“Hmmmm sejak kapan kamu baca novel?.. Bukannya kamu lebih senang membaca buku sejarah ya? Sejarah yang melewati berbagai revisi maksudku! hahahaa”

“Barusan saja.. tiba-tiba.”

Anda menghisap dalam-dalam rokok kesukaannya sambil tertawa membenarkan perkataan Saya tadi dan kembali bicara untuk membuka topik lainnya.

“Aku sudah memesan kopi dan roti bakar.”

“Bir dingin ya. Tambah es batu,” teriak Saya pada seorang pelayan, kemudian mengeluarkan sebungkus rokok mentol dari dalam tas dan mulai membakarnya.

“Sibuk apa akhir-akhir ini?” tanya Anda datar.

“Seperti biasa. Menyelesaikan naskah novelku karena pihak penerbit sudah mulai cerewet.. Oo iya akhir pekan ini aku ada jadwal pentas.”

Selain bekerja dalam dunia kepengarangan yang telah mempublikasikan beberapa buku kumpulan puisi  dan novelnya secara nasional melalui penerbit ternama, Saya juga populer sebagai musisi bahkan melebihi kepopulerannya sebagai penyair muda. Syair yang dibuatnya selalu melukiskan tentang semangat hidup, ia menulisnya melalui berbagai metafor berbau surealis. Semuanya lebur dengan musik yang dibuat dan dimainkannya sendiri. Saya kerap menyebut musiknya dengan istilah  teks-berbunyi’, istilah karangannya untuk menghindari sebutan musikalisasi-puisi yang kerap dilabelkan banyak kritikus abal-abal padanya. Aku adalah ‘the future of female noise’** ketika media menanyakan perihal jenis musiknya. Pernyataan tadi selalu di akhiri dengan senyuman sinis, menandakan semua istilah itu hanya omong kosong baginya. 

“Kamu ada waktu kan akhir pekan ini?” Saya berharap Anda akan datang.

“Ya tentu, aku pasti datang.. Tapi untuk melihat pamerannya, bukan melihat aksimu yang gila itu!”

Tawa pun pecah di antara keduanya, melupakan luka permanen dalam jiwa mereka. Tidak ingin terlarut, Anda mengambil telepon genggam di saku jaket dan mulai memilih koleksi lagu yang dimilikinya. Anda memutarkan Come Away With Me dari Norah Jones menggunakan pengeras. Lagu itu merupakan lagu favorit mereka. Semacam anthem untuk mereka berdua. Mengingatkan masa-masa sulit ketika mereka harus menjadi pengamen cafe dengan bayaran yang tidak cukup untuk membiayai hidup, sehingga mereka harus mencari tambahan dengan mengamen dari warung ke warung di pusat kuliner.

Sepanjang lagu yang cukup pendek itu Anda melamun jauh. Membayangkan apa yang akan terjadi di akhir pekan nanti, ia teringat setiap pertunjukan Saya selalu berakhir dengan buruk. Anda tahu betul kekurangan sahabatnya. Saya tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup, hal ini salah satu penyebab ketergantungannya dengan obat bius. Anda khawatir akhir pekan nanti Saya akan mengekploitasi dirinya sendiri karena harus berdiri di hadapan banyak orang dalam keadaan tidak sadar. Emosinya sering meledak-ledak dan dia sama sekali tidak mampu mengendalikannya. Saya hanya pura-pura bersikap normal di balik kepribadiannya yang sangat menderita karena menjadi fokus utama di antara ratusan mata dan puluhan lensa yang membidiknya. Menghubung-hubungkan kepopuleran Saya dengan ketergantungan obat bius adalah headline yang akan kita jumpai di berbagai media keesokan-harinya. Tidak lagi berita tentang karyanya, tapi lebih pada aksi spontan Saya saat sedang mabuk di sebuah panggung pertunjukan.

“Apa yang kamu pikirkan? apakah kamu memikirkan aku seperti pada pentas-pentasku sebelumnya?.. hmm.. semoga saja tidak banyak wartawan yang datang! Kamu tahu aku tidak suka itu.. Dan aku tidak akan menyiram mereka dengan segelas wine seperti yang kamu lihat kemarin, apalagi membakar al-kitab. Tapi entahlah apalagi yang akan kulakukan besok, mungkin aku akan mencium semua wartawan yang datang mencuri berita!”

“Hmm, tidak.. aku tidak berpikir apapun!”

“Sejak kapan kamu tertutup seperti ini?, apa yang sebenarnya kamu pikirkan?” Saya menangkap sesuatu yang aneh dan mendengar kebohongan dari suara Anda yang tertahan.

Tiba-tiba Anda menjadi kaku dan sulit berkata-kata, “ah tidak, aku hanya ingin melihatnya.. jadwalmu sepertinya semakin padat saja!” Dia bahkan berpikir untuk membatalkan niatnya seperti semula saat mengundang Saya datang ke kedai.

Saya berkomentar lebih serius karena dia tahu betul Anda sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

“Kapanpun kamu membutuhkan teman, aku akan selalu ada untuk menemani dan mendengarkan masalahmu. Ada masalah apa denganmu?”

Anda semakin tersudut menghadapi kecurigaan sahabatnya. Beruntung pelayan datang membawa pesanan mereka, pelayan itu bernama Nina yang sudah mereka kenal, kedatangannya sedikit mengaburkan ucapan Saya tadi.

“Nin tolong tempel pamflet ini di kedai. Kalau akhir pekan kamu libur, datang ya!” ucap Saya sambil memberikan pamflet acara yang sengaja dibawanya dari rumah.

“Oh ya ya, aku pasti datang Mbak.. ada tambahan lain?”

“Tidak!” jawab Anda. 

“Tidak, terima kasih ya Nin.”

“Sama-sama Mbak!”

“Yakin tidak pesan makanan? Memangnya sudah makan di rumah?” Anda menegaskan tawarannya.

Saya bersikap acuh dan hanya menggelengkan kepalanya lalu membakar rokok mentolnya untuk kedua kali.

+++
Matahari terbenam di balik belukar hampir pukul enam. Anda belum juga bicara yang sebenarnya, mengapa ia mengundang Saya sore ini. Saya kemudian pergi ke arah belakang kedai, di sebuah toilet ia mulai mengkonsumsi obat bius, dan dalam hitungan menit kondisinya berubah drastis. Anda tahu betul apa yang Saya lakukan, karena ia pernah mengalami penderitaan yang sama. Beruntung Anda berhasil sembuh setahun yang lalu karena tekadnya, dengan mengikuti berbagai terapi. Tapi tidak untuk sahabatnya, Saya harus tetap menjadi pemakai bahkan ketergantungannya semakin parah.

Selang beberapa saat Saya kembali duduk di hadapan Anda dengan tatapan mata sayu dan berulang kali menyentuh hidungnya yang sedikit memerah, kadang menggaruknya pelan. Anda memandang dengan kesedihan. Berpikir keras bagaimana ia bisa menyembuhkan sahabatnya itu. Berbagai cara telah dilakukan tapi belum menghasilkan perubahan.

Anda kembali bertanya kepada Saya yang sedari tadi hanya terdiam dan menikmati perubahan dalam dirinya.

“Apakah kamu tidak berniat untuk mengakhiri penderitaanmu ini?”

Saya memandang lebih dalam dan menghela napas yang teramat berat. Seberat suara dan hidupnya.

“Tentu aku ingin! Tapi kamu tahu betul bagaimana kondisiku.”

Kepalanya tertunduk pasrah. Tapi tiba-tiba ia kembali bersikap normal seolah menyatakan dirinya baik-baik saja, mencoba menahan airmata dengan menghisap rokok yang tidak pernah lepas dari tangannya yang gemetar. 

Wajahnya pucat pasi dan bibirnya mengering. Garis-garis wajahnya dapat kita pahami sebagai penderitaan yang cukup panjang. Saya melakukan ini bukan tanpa alasan. Sejak usianya belum genap limabelas tahun Ayahnya yang berdarah Jepang sudah meninggal, ia hidup bersama ibunya yang sering pulang terlampau larut dengan alasan bekerja. Saya harus hidup lebih keras dibandingkan teman seusianya, ia mendapatkan uang dengan berbagai cara karena ibunya tidak mencukupi kebutuhannya. Saat itulah ia mulai mengenal Anda lebih dekat karena mereka memiliki kegemaran serupa dalam bidang seni dan obat bius.

Hari semakin gelap, hanya lampu taman yang menjadi penerang di beberapa sudut kedai yang terhalang batang-ranting pohon. Sementara makanan dan minuman pun sudah tak tersisa.

“Kamu mau pesan lagi?”

Saya hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian Anda kembali bicara, kali ini dengan sikap lebih  serius dan mencoba meyakinkan.

“Sebenarnya ada sesuatu untuk kamu, jika tidak keberatan aku akan menunjukannya padamu di rumah.”

Saya memandang curiga sekaligus bahagia, karena tidak biasanya Anda seperti ini.

“Wah.. aku mau, sekarang juga kita kerumahmu! Sepertinya sebentar lagi hujan.”

Mereka pergi dengan motor tua milik Anda. Untuk sampai ke rumah Anda membutuhkan waktu sekitar 30 menit melalui jalan alternatif melewati gang-gang sempit di antara rumah penduduk. Dalam setengah perjalanan tiba-tiba hujan turun lebih cepat dari yang mereka kira, seketika pula pakaian mereka menjadi basah.

“Tidak ada mantel ya?”

“Tidak,” terang Anda sambil mencari tempat berteduh.

Akhirnya mereka melihat sebuah teras rumah tanpa penghuni di tepi jalan, mereka sepakat untuk berteduh di rumah itu, dalam keadaan basah kuyup Saya mulai menggigil dan mengorek-ngorek isi tasnya yang juga basah.

“Tubuhmu gemetar, apakah obatmu sudah habis?”

“Ya, uangku sudah habis.. obat dari dokter juga habis,” Saya terdengar  putus asa.

Anda kembali menyalakan motornya dan memerintahkan Saya untuk segera naik. Kali ini Anda memacu motor tuanya dengan kecepatan penuh menembus deras hujan. Tujuannya adalah rumah, dia tidak sanggup melihat Saya menderita dengan ketergantungannya di pinggir jalan. 10 menit kemudian mereka sampai di sebuah rumah  tua yang masih gelap. Di rumah yang sederhana itu Anda tinggal seorang diri karena keluarganya memilih tinggal di luar negeri, di mana Ayah dan Ibunya menjalankan bisnisnya, sedangkan Anda memilih hidup mandiri. Saya sudah tidak merasa asing seperti seorang tamu karena ia sudah menganggap rumah ini sebagai rumah kedua untuknya. Sebagian puisinya pun ditulis di rumah ini.

Anda segera mengambilkan handuk untuk Saya. “Keringkan tubuhmu, ganti pakaianmu. Pilih saja di almari!” kemudian dia pergi dengan sepeda motornya. Anda pergi menemui seorang bandar obat bius di mana Saya sering mendapatkannya. Beruntung bandar itu juga mengenal Anda, dan dengan mudah ia pun mendapatkan satu paket obat bius yang dibutuhkan sahabatnya. Setelah barang itu di tangan, dia bergegas pulang di bawah deras hujan yang belum juga reda.

+++
Anda mendapati Saya sudah tersungkur di antara almari kayu dan kasur yang membentang di sudut kamar. Saya sudah kehilangan keseimbangan karena harus menunggu hampir limapuluh menit demi mendapatkan obat bius itu karena lokasinya cukup jauh dari rumah Anda.

Saya terjatuh saat sedang berusaha mengenakan pakaian ganti dan hanya berhasil mengenakan kaos berukuran besar berwarna putih milik Anda. Badannya menggigil lebih kencang dari sebelumnya, ucapannya pun sudah tidak dapat dimengerti ketika Anda mengangkatnya ke atas kasur, tapi Anda tahu apa yang harus ia lakukan hanyalah memberikan obat bius itu secepatnya. Dia sadar betul yang dilakukannya adalah suatu kesalahan, tapi lagi-lagi dia tidak memiliki pilihan selain melakukannya. Sangat tidak mungkin untuknya membiarkan Saya sekarat kesakitan atau membawanya ke rumah sakit tanpa penanganan lebih lanjut. Karena dokter hanya akan memberikan obat bius dengan jenisnya yang lain. Banyak pertimbangan ketika menghadapi situasi seperti ini, pertanyaan demi pertanyaan menumpuk sampai Saya berangsur pulih.

“Apakah kamu semakin membaik?”

“Lumayan, makasih ya.” Saya mulai bicara dengan lebih baik.

“Pakailah baju yang lebih tebal.. udaranya dingin!”

“Ah, ini sudah cukup nyaman”

“Kamu terlihat lebih seksi seperti itu”

Anda menggoda sahabat yang baru saja diselamatkannya. Saya hanya tersenyum mendengarnya, lalu mulai menyentuh rambut panjangnya yang jatuh terurai, sedikit kusut.

“Tolong ambilkan rokok mentolku?”

“Rokok mentolmu basah di dalam tas, barang-barangmu yang lain juga. Sedang kukeringkan!.. Aku beli di warung depan kalau kamu mau?”

“Tidak perlu.” Wanita itu menjawab cepat.

“Hisaplah untuk sementara waktu,” Anda menyodorkan rokok yang tersisa.

Saya terlihat tidak tertarik, lantas merebahkan tubuhnya lagi di atas kasur, tidak risih dengan yang dikenakannnya walaupun dia tahu bahwa kaos itu cukup transparan. Bahkan Anda untuk pertama kali dapat melihat tato jantung dengan sayap berwarna biru yang memenuhi sebagian dada gadis oriental itu. Indah. Saya menatap langit-langit kamar, menerawang menembus gelap di baliknya. Nafasnya terengah, lelah. 

“Mana? Aku ingin melihatnya!”

Sementara itu Anda sudah berada dalam ruang kerjanya. Kemudian meminta Saya untuk masuk ke dalam ruangan itu. Piano tua peninggalan kakeknya yang seorang pianis berada di tengah ruangan, 3 buah mikrophone menggantung dari langit-langit, sebuah komputer terlihat menyala di belakang piano dan 4 buah speaker berukuran sedang di setiap sudut ruangan dan tumpukkan kertas di atas kursi. Ruangan ini terlihat telah di tata-ulang. Cahaya di ruangan itu cukup gelap karena hanya ada sebuah lampu sorot berwarna biru tepat di atas piano, cahayanya memantul redup dari badan piano yang terkena cahaya.

Saya semakin diselimuti kebingunan, apa sebenarnya yang akan Anda lakukan, namun ia tidak lagi bertanya dan hanya duduk terdiam di sudut lain ruangan itu sambil terus menatap ke arah Anda dan sesekali ke arah lainnya. Anda memberikan selembar kertas dan meminta Saya untuk membacanya sekehendak.

Tanpa aba-aba, tangan Anda mengambil selembar kertas yang terlihat berupa partitur karya-karya musik dari atas kursi menghadap piano. Anda meremasnya dan melemparkannya ke dalam piano yang terbuka tepat mengenai senar-senar piano yang semula tenang pada ketegangannya masing-masing. Keheningan pecah seketika, berganti suara-suara aneh yang terdengar dari tindakan tersebut. Suaranya lirih, kadang sedikit keras, bahkan suara-suara itu terjadi secara kebetulan akibat benturan-benturan kertas di antara bentangan senar. Sementara Saya membaca baris demi baris tulisan tangan tanpa judul di antara gelap:

“memompa kesadaran dengan luka di lenganku
menyadari bahwa semua telah menjadi gila
apa yang dilakukan olehnya, juga olehku
dan kalian tentu saja, mungkin.

pelan dalam kecepatannya. cepat melambat.
kecepatan sering terlambat. Kadang.

nada pertama melantun bijak,
nada selanjutnya butuh kejelian.
nada pertama melantun bijak,
nada terakhir jatuh terlambat.

pengulangan adalah kebosanan sejuta makna
berputar-putar mengeliling - berkeliling pada putaran.
darah mengering hitam. suram melebam.
roti tawar; lagi. memompa kesadaran menjadi gila.”***

Satu-persatu bahkan beberapa lembar sekaligus, kertas itu dilemparkan ke dalam piano dengan sangat yakin. Jumlahnya puluhan. Anda melemparkannya dengan tempo acak, kadang konstan kadang dengan jeda yang cukup panjang untuk memberi kesempatan bunyi hujan terdengar riuh berhimpitan dengan emosi Saya saat membacakan tulisannya. Suasana di ruangan itu hampir tidak dapat terlukiskan terlebih menuliskannya secara lisan. Menterjemahkannya adalah sia-sia, cukup mendengarkannya sebagai pengalaman. Pantulan-pantulan samar datang silih berganti, mengepung dari setiap sudut. Seolah dinding-dinding saling beradu bicara. Ini bukan halusinasi karena Saya menggunakan obat bius, tapi karena Anda telah mengkondisikan komposisinya sedemikian rupa sehingga membawa siapa saja yang berada dalam ruangan itu akan mengalami situasi yang benar-benar absurd. Sampai tumpukan kertas itu tak tersisa maka selesailah sudah. Kesunyian bersambung hela napas kepuasan. Hening.

Anda memandang Saya yang terlihat masih terbawa suasana, bertanya-tanya dalam hati apa maksud semua ini.
“Karya ini untuk kamu!”

Saya semakin tidak mengerti dan tetap diam terkesima menatap lurus ke arah piano mencerna kata-kata.

“Sudah, tidak perlu dipikirkan.. pertunjukan sudah selesai!” Anda bicara lebih ringan. 

Saya masih dalam kebingungannya, tidak dengan karya sahabatnya. Tapi dengan maksud  perkataannya dan mencoba menyimpulkan kejadian malam ini.

Anda menggiring suasana lebih cair, “mau minum apa? akan kubuatkan teh hangat jika kamu mau dan kita bisa mendiskusikan karyaku tadi.” Saya hanya mengangguk setuju.

Anda pergi untuk membuatkan minuman, seketika pula rasa penasaran Saya menuntunnya kearah piano dan mulai mengambil kertas-kertas di dalamnya. Saya membuka dan meluruskan kembali kertas-kertas itu, ia sangat tidak percaya bahwa dalam kertas partitur itu tertera judul karya yang sama sekali tidak dibayangkannya. Karya itu berjudul Piano Piece For Saya #11, Saya membuka kertas lain dan membacanya. Kali ini berjudul Piano Piece For Saya #4, kertas ketiga berjudul Piano Piece For Saya #7 dan medapatkan nomor berbeda pada lembar lainnya, semuanya tertulis lengkap dengan keterangan-keterangan. Puluhan kertas masih berserakan dan belum ia sentuh ketika langkah kaki Anda mendekat.

Entah perasaan seperti apa yang dirasakan oleh Saya, hatinya luruh dan matanya yang agak sipit tidak tahan lagi membendung airmata. Ketika Anda meletakkan minuman dan baru saja ingin mengatakan sesuatu, Saya memeluk Anda dengan perasaan ganjil. Anda hanya diam dan merasakan keganjilan yang sama.

Tubuh Saya lebih dingin dari biasa, mungkin dia demam akibat guyuran hujan atau karena pengaruh obat bius.

“Minumlah tehnya selagi hangat dan makan roti itu, lalu istirahatlah.”

Saya menurutinya karena dia merasakan tubuhnya tidak dalam kondisi baik untuk pulang dan hujan semakin lebat di luar. Menit kemudian Saya sudah terbaring lagi di kasur, Anda menyelimuti tubuhnya yang rapuh. Wajah cantiknya menderita. Pucat. Seperti tidak ada darah yang mengalir.

“Tidurlah di sampingku, dingin sekali rasanya.”

“Ya,.. tapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku terlebih dulu.” Anda pergi meninggalkan kamar dan mematikan lampu.

Saya selalu bangun lebih awal dari ayam jantan, Anda tidur di ruang tamu dengan televisi yang masih menyala. Sepertinya dia kelelahan dan memiliki pikiran yang cukup berat sampai sesekali Saya mendengarnya mengigau samar.

Seperti biasa Saya mengawali hari-harinya dengan segelas air putih dan obat bius. Dan semuanya sudah disediakan oleh Anda di sebuah meja dekat dapur. Tanpa berpikir panjang Saya memenuhi kebutuhan biologisnya. Dalam satu hari Saya harus mengkonsumsi sebanyak tiga kali bahkan sampai empat. Obat bius itu telah menggerogoti tubuhnya dan dia merasa normal hanya ketika di bawah pengaruh obat itu, selebihnya adalah kesakitan.

Matahari menunjukkan sinarnya yang pertama di halaman depan, Saya bergegas pulang untuk kemudian mencari obat lainnya, sementara itu Anda masih terlihat nyenyak.

Satu jam berselang keramaian sudah dimulai, derap langkah pejalan kaki dan kendaraan bermotor silih berganti membuat kebisingan di depan rumah membangunkan Anda. Saya meninggalkan pesan  di atas televisi:

“Temui aku sore ini.”

+++
Sore hari di tempat yang sama dengan situasi yang berbeda mereka berhadapan tanpa suara. Saya terlihat lebih segar ketimbang semalam. Asyik menenggak Bir dingin dan menikmati rokok mentolnya. Anda hanya memutar-mutarkan cangkir kopinya berderit. Mengganggu.

“Apakah kamu pernah berpikir untuk mementaskan karyamu itu?” Saya membatalkan kebisuan.

“Tidak!”

“Kenapa tidak?.. Kita bisa memainkannya di pentasku besok, di galeri itu ada sebuah piano yang tidak pernah di mainkan. Aku bisa minta panitia untuk menyediakan yang kamu butuhkan. Bagaimana?”

“Aku sudah membakar kertas-kertas itu. Dan setelah tadi malam, karyaku sudah selesai!”

Sekali lagi Anda membuat Saya mengalami kekacauan. Kehampaan menyerang seketika bersama harapannya yang pudar, tapi dia masih menyisakannya. Sedikit keyakinan, ada alasan.

“Jadi kamu sudah tidak mencintaiku lagi setelah tadi malam?!”

“Apa maksudmu? kamu baik-baik saja kan?”

“Tentu aku baik-baik saja!, aku sudah memiliki obat untuk beberapa hari kedepan dari honor tulisanku.. jawab pertanyaanku?!” 

“..Mbak!”, tiba-tiba saja suara wanita pejalan kaki menyela pembicaraan sambil melambaikan tangan kearah Saya juga Anda ketika mereka menoleh.

“Hei, mau kemana?” Saya tampak tetap ramah menjawab, sedangkan pikiran hatinya sedang sangat kacau.

“Ke toko buku Mbak. Mau tukar nih ada halaman yang hilang!.. Besok lusa manggung ya Mbak? Main jam berapa?”

“Yah, lain kali di cek dulu kalau beli..  Jam delapan, datang ya!”

“Siap Mbak, aku duluan ya.. keburu tutup.”

Wanita itu melanjutkan tujuannya. Berjalan lebih cepat sambil menggerutu kearah toko buku yang tidak jauh dari kedai. Sementara Anda menahan kata dalam jeda.

“Aku mengenalmu seperti aku mengenal diriku sendiri, kamu pasti sembuh.. kita akan melewatinya bersama”

Saya salah mengartikan maksud ucapan Anda. Perasaan yang selama ini terpendam seperti menemukan harapan lebih. Ia memberanikan diri untuk kembali bertanya dengan suara yang parau: “apakah kamu akan tetap menuliskan komposisi untukku ketika aku menjadi kekasihmu?”

“Berapa banyak obat yang kamu konsumsi hari ini?.. Bicaramu melantur!”

Long-dress berwarna cerah bercorak bunga-bunga yang dikenakan Saya tampak semakin kontras dengan warna kulit wajahnya yang putih pucat. Kekacauan kembali menjalar cepat. Tatapnya hampa, matanya berkaca-kaca. kali ini Saya benar-benar tidak mengenali Anda, sahabatnya sejak kecil.

Kecantikan, kecerdasan dan kepopuleran Saya membuat semua lelaki ingin menjadi kekasihnya. Mungkin lebih. Walau pun beberapa pria yang pernah menjadi pacarnnya selalu meninggalkannya begitu saja setelah mengetahui latar belakangnya yang gelap. Saya lebih mencintai dirinya sendiri ketimbang siapapun. Perasaannya berbeda untuk Anda, Saya betul-betul mencintainya sebanding dengan kecintaannya pada diri sendiri. 

“Maafkan aku.”

“Untuk apa?, kamu sama sekali tidak salah.. lupakan perkataanku tadi.”

“Hanya saja aku tidak bisa.. tidak mungkin untukku!”

“Sudah, lupakan aku bilang!” Saya sangat kecewa. Airmata menggaris di pipinya.

Warm..warm..warm..leatherette..warm..warm..warm..leatherette...........................................before you die.......warm...leatherette! nada-dering itu terdengar aneh dari dalam tas kulit di atas meja kedai. Kali ini pemiliknya mengacuhkannya karena merasa tidak ada kepentingan untuk mengangkatnya. Saya tidak pernah peduli dengan siapa pun yang menghubunginya melalui telepon genggam itu. Kecuali Anda. Tapi tidak seorang pun setelah sore ini. Bahkan ia akan merubahnya menjadi nada-sunyi sebelum lagu itu kembali menusuk-nusuk tajam di telinga.

Betapapun Anda mencintai Saya, dia tidak berniat menjadi kekasihnya. Penderitaannya lebih berat dari sahabatnya, tapi sampai sore itu Saya tidak mengetahuinya. Anda teridentifikasi mengidap HIV-AIDS akibat sering berbagi jarum suntik dengan banyak orang. Hal ini yang mendorong Anda untuk berhenti mengkonsumsi obat bius agar tampak terlihat sehat di mata sahabatnya. Berharap hidup lebih panjang bersama Saya.

Catatan:
*1) Penggalan lirik: Chicks On Speed, Warm Leatherette.
*2) Penggalan judul: Nina Power, Women Machines: the Future of Female Noise. Noise & Capitalism. Arteleku, 2009.
*3) Prosa-bebas: Kesadaran Gila. Pandu Hidayat. Unpublished, 2012.
PanduHidayat, Yk – 2012