Showing posts with label Titikoma Press. Show all posts
Showing posts with label Titikoma Press. Show all posts

Monday, December 10, 2018

Ekspedisi Ulang Alik: Pendakian Gunung Gede & Pangrango


Seperti kita tahu, bahwa pengurusan SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) hanya dapat dilakukan secara online, dengan jumlah kuota yang telah ditetapkan perharinya. Hal ini baik, mengingat banyaknya jumlah pendaki yang berdatangan, tentu saja berakibat buruk pada ekosistem di wilayah Taman Nasional. Maklum, masih banyak pendaki dengan tingkat kesadaran rendah pada lingkungan. Dan sepertinya kata “Pecinta Alam” tidak berlaku bagi kebanyakan mereka, karena mereka datang hanya untuk bersenang-senang (piknik). Jangankan melestarikan alam, membawa sampahnya turun saja tidak. Hal ini terbukti jika anda berkunjung ke Alun-alun Surya Kencana di gunung Gede, sampah berserakan dimana-mana. Begitulah, ketatnya sistem pendaftaran online tidak berpengaruh pada situasi di Taman Nasional, bahkan sebaliknya hal ini terbilang cukup merepotkan para pendaki yang harus datang ke Balai Taman Nasional untuk melakukan validasi setelah melakukan registrasi online. Belum lagi diwajibkannya surat keterangan sehat dan persyaratan lainnya. Tapi bagaimanapun rumitnya, ikutilah peraturan yang berlaku.
Setelah mengurus perijinan 1 minggu sebelum pendakian, saya bersama Nurita (sepupu perempuan) dan seorang teman pendaki bernama Hembuscraft berangkat menuju basecamp pendakian gunung Gede melalui jalur Gunung Putri. Tepat pukul 24:00 (20 November 2018) kami tiba di basecamp dan langsung beristirahat, karena kami berencana akan memulai pendakian sebelum matahari terbit. Suasana basecamp yang menyerupai sebuah home stay sangat tenang dan dingin malam itu, tidak ada pendaki lain yang bermalam. Alhasil kami bertiga mendapat sebuah ruangan dan kamar di lantai atas plus kasur empuk. Rencana untuk memulai pendakian lebih awal sedikit meleset karena kami harus menunggu sarapan yang disediakan pihak basecamp dan melengkapi perbekalan logistik untuk 3 hari dan 2 malam. Pagi itu kami sarapan bersama pemilik basecamp yang sudah saya kenal sebelumnya, dan setelah selesai sarapan pukul 06:00 kami baru memulai pendakian.
Hari ke 1 (06:00-12:00)
Meskipun saya sudah seringkali mendaki melalui jalur Putri, tapi baru kali ini saya memulai pendakian setelah matahari terbit. Ternyata pemandangan dari basecamp menuju pos bayangan (Tanah Merah) cukup menyejukkan mata, petakan terasering perkebunan warga yang didominasi sayur-sayuran sedang tumbuh lebat, mungkin siap panen. Tapi saya baru sadar, bahwa trek dari pos pengecekan Simaksi sampai pos bayangan adalah susunan bebatuan yang agak besar, sehingga membuat langkah awal saya kurang begitu nyaman. Trek mulai berubah menjadi tanah padat setelah memasuki pintu hutan (Pos Bayangan) menuju pos 1 (Pos Informasi Lama). Seperti biasa, saya selalu merasa bahwa pendakian awal dari basecamp menuju Pos 1 selalu terasa melelahkan dan trek pun terkesan sangat-sangat panjang. Mungkin karena kondisi fisik yang masih tegang dan belum sepenuhnya beradaptasi, sehingga tenaga seakan dikuras habis-habisan dan jantung terpompa lebih cepat. Kami terus melanjutkan langkah sampai di Pos 1 dan kemudian beristirahat sejenak di sebuah shelter, rasanya seperti sudah sampai puncak, padahal ini baru Pos 1 menn.
Berlanjut menuju Pos 2 (Legok Leunca), Pos 3 (Buntut Lutung), Pos Bayangan (Lawang Saketeng) dan Pos 4 (Simpang Maleber)  trek tidak jauh berubah. Berupa tanah padat, dengan sudut kemiringan yang bervariasi. Jarak tempuh antar Pos memakan waktu sekitar 1 – 1.5 jam, berjalan santai, minim istirahat. Kami hanya beristirahat sekitar pukul 09:00 untuk membuat kopi dan bersantai di bawah Pos 3. Setelah sekitar 30 menit, kami melanjutkan pendakian menuju pos-pos berikutnya, sampai akhirnya trek kembali berubah berupa bebatuan yang tersusun sedemikian rupa. Dan jika anda sudah menemukan trek ini setelah Pos 4, pertanda bahwa Alun-alun Surya Kencana yang memiliki ketinggian 2750 Mdpl sudah dekat (sekitar 1 jam perjalanan). Alun-alun Surya Kencana sendiri merupakan sebuah lembah yang diapit oleh dua gunung, yaitu gunung Gede dan gunung Gemuruh, serta memiliki luas 50 hektar. Sedangkan panjang lintasan dari Pos Perijinan Gn Putri sampai Alun-alun Surya Kencana adalah 6.9 Km. Kami pun tiba di Surya Kencana bagian Timur tepat pukul 12:00, dan cukup 30 menit untuk sampai di Surya Kencana bagian Barat, dimana kami berencana untuk mendirikan tenda. Kami sudah berjalan selama 6 jam dan 30 menit istirahat, ini adalah waktu tercepat saya mendaki gunung Gede melalui jalur Gn Putri. Kami sengaja memiliki target untuk cepat sampai agar dapat terhindar dari hujan sebelum dapat mendirikan tenda, maklum sudah memasuki musim hujan sehingga turunnya hujan tidak dapat diprediksi. Dan para pendaki yang berpapasan dengan kami di trek pendakian saat mereka sedang turun gunung memberi informasi bahwa hujan badai  terjadi sejak beberapa hari ke belakang. Begitu pun petugas pos penjagaan, menganjurkan kami untuk tidak mendirikan tenda di area yang terlalu terbuka.
Dengan informasi yang di dapat, akhirnya saya putuskan untuk mendirikan tenda yang terlindung oleh pepohonan, agar lebih aman ketika terjadi badai. Tapi sepinya Surya Kencana siang itu tidak mempermudah kami untuk menemukan tempat yang nyaman. Ketika ada tempat datar dan banyak pepohonan, disanalah sampah-sampah berserakan yang dengan sengaja ditinggalkan. Sampah masih bisa kami bersihkan, yang lebih parah adalah kotoran manusia juga ada dimana-mana. Kelakuan pendaki yang sangat-sangat tidak punya etika seperti ini membuat repot pendaki lain, termasuk kami yang sudah sempoyongan mencari tempat karena panas luar biasa menyengat ubun-ubun. Akhirnya kami menemukan tempat agak ke arah barat, setelah melewati sungai yang membelah Surya Kencana, posisi tenda kami cukup jauh dari tenda lainnya. Sangat eksklusif dan tentunya tidak berisik. Hanya ada bunga Edelweiss dan tenda kami. Perlu diketahui, kondisi sungai di Surya Kencana sangat memprihatinkan, sampah berserakan di aliran sungai. Sudah tidak sehat untuk di konsumsi langsung. Sebaiknya pendaki membawa persediaan air minum dari bawah. Jika terpaksa, lebih baik air di masak terlebih dahulu.
Karena saya senang dengan solo hiking, saya pun hanya memiliki dan membawa tenda untuk 1 person. Beruntungnya badan kami tidak terlalu besar, jadi tenda dapat menampung 2 orang. Saya juga membuat vestibule tambahan dengan flysheet, sehingga memungkinkan untuk menampung 1 orang, termasuk menaruh barang-barang. Setelah tenda berdiri kami melanjutkan ritual masak-memasak sambil menikmati sore di Alun-alun, tidak ada tanda-tanda turun hujan. Bahkan hujan baru turun pukul 21:00, dan tidak lama kami pun beristirahat untuk mengembalikan stamina, karena kami berencana bangun pukul 02:00 dini hari untuk melakukan persiapan double summit ke puncak Gede dan puncak Pangrango (tektok). Jarak dari Alun-alun ke puncak gunung Gede adalah 1.1 Km, sedangkan panjang lintasan dari puncak Gede ke puncak Pangrango berjarak 5.3 Km. Karena kami meninggalkan tenda kami di Surya Kencana, jadi kami harus memiliki tenaga ekstra untuk melakukan perjalanan pulang pergi dari Surya Kencana – Lembah Kasih Mandalawangi (Gunung Pangrango), kemudian kembali ke Alun-alun Surya Kencana. Jika di total kami harus menempuh jarak 12.8 Km di hari ke dua.
Hari ke 2 (04:30-19:30)
Pukul 02:00 saya sudah bangun dan membangunkan yang lain, kemudian kami membuat sarapan dan mempersiapkan segala perbekalan untuk melakukan summit attack. Karena masih ngantuk dan kedinginan, pergerakan kami agak lambat sehingga baru pukul 04:30 kami memulai perjalanan. Trek menuju puncak Gede berupa susunan bebatuan yang membuat kaki sakit, vegetasi cukup rapat dan tanjakan terkadang cukup terjal. Hanya butuh waktu sekitar 45 – 60 menit untuk sampai di puncak. Kami sampai di puncak gunung Gede yang memiliki ketinggian 2958 Mdpl sekitar pukul 05:15, menikmati keindahan yang mengelilingi kami sambil menunggu matahari terbit. Setelah matahari terbit dan merasa cukup di puncak, kami melanjutkan perjalanan turun menuju persimpangan antara puncak Gede dan Pangrango, letaknya tidak jauh dari Pos Kandang Badak (jalur pendakian via Cibodas). Trek awal menuju Kandang Badak berupa pasir dan batu kerikil sampai pada puncak bayangan. Setelah puncak bayangan trek berubah menjadi susunan batu padat yang siap menyiksa telapak kaki. Di lintasan ini pendaki akan menemui sebuah tanjakan yang harus dilalui menggunakan tali webbing, kemiringannya sangat curam. Tanjakan ini di sebut Tanjakan Setan oleh para pendaki, bukan karena tanjakannya yang ekstrim sehinnga disebut setan, akan tetapi suasana sepanjang trek itu memang lumayan mistis. Hmm skip.
Kami sampai dipersimpangan Kandang Badak pukul 07:30, kemudian mencari tempat untuk beristirahat ke arah puncak Pangrango. Setelah 30 menit beristirahat, pendakian ke puncak Pangrango di mulai. Trek dari persimpangan sampai ke puncak merupakan tanah padat dengan kemiringan yang bervariasi. Sepanjang trek kita akan di suguhi pemandangan hutan yang menakjubkan, masih alami karena gunung ini jarang di daki. Alasan kenapa para pendaki lebih memilih gunung Gede ketimbang mendaki Pangrango, karena view pemandangan di Gunung Gede lebih luas, tidak seperti puncak Pangrango yang terhalang oleh pepohonan. Tapi saya pribadi lebih suka untuk mendaki Pangrango, lebih bersih, sunyi dan menenangkan. Meskipun treknya cukup menguras tenaga dan tidak semudah jalur pendakian gunung Gede, justru saya lebih bisa menikmatinya.
Pada awal jalur pendakian kita harus melalui banyak pohon-pohon tumbang, maka untuk melewatinya kita harus merunduk atau melompati pohon tumbang tadi. Selanjutnya kita akan melewati hutan lumut, viewnya istimewa untuk mengambil gambar. Dan rintangan terakhir adalah banyaknya trek sempit yang terhimpit tanah di sisi kanan dan kirinya khas Pangrango. Trek semacam ini tidak akan ditemui jika kita mendaki gunung Gede, dan trek yang meliuk-liuk seperti ular ini sangat banyak di Pangrango. Kesabaran pun di uji, karena lorong-lorong itu seperti tidak ada habisnya. Membuat mental saya turun naik, dan pergulatan batin terjadi. Saya masih merasa sanggup untuk sampai puncak, tapi apakah saya sanggup untuk kembali ke Surya Kencana? Pertanyaan itu salalu muncul ketika napas mulai tersengal.
Selama pendakian ke Pangrango, kami hanya berpapasan dengan satu rombongan kecil yang sedang turun, selebihnya hanya kami bertiga di trek. Dan kami tiba di puncak Pangrango yang memiliki ketinggian 3019 Mdpl pada pukul 11:15, lelah pun hilang dalam sekejap. Tidak berlama-lama, kami kemudian turun menuju Lembah Kasih Mandalawangi. Ini adalah kali kedua saya menginjakkan kaki di Lembah Kasih, sebuah tempat yang menjadi favorit saya. Dan ternyata tidak ada satupun tenda yang berdiri, hanya 2 tim kecil yang sudah bersiap untuk turun ketika kami datang. Akhirnya mimpi saya kesampaian, saya ingin merasakan Lembah Kasih yang dingin dan sunyi seperti yang di gambarkan dalam puisinya Soe Hok Gie. Sebenarnya saya punya keinginan untuk mendaki ke Pangrango seorang diri, sayangnya tidak ada izin untuk melakukan solo hiking, baik di gunung Gede ataupun Pangrango. Karena dalam peraturan tertera bahwa pendakian dapat dilakukan minimal 3 orang, inilah alasan tim ekspedisi ini berjumlah 3 orang.
Tidak banyak yang berubah di Lembah Kasih, berbeda dengan Surya Kencana yang sudah terlalu sering dieksplorasi. Kami bertiga pun turun ke ujung lembah, dimana terdapat sebuah mata air yang sangat-sangat jernih. Setelah selesai mengisi botol yang sudah kosong, tidak lama kami mendadak disibukan dengan kedatangan hujan yang turun tanpa aba-aba. Kami langsung membuat sebuah bivak menggunakan ponco, dan mulai memasak untuk makan siang. Lembah Kasih Mandalawangi yang memiliki luas 5,5 Hektar siang itu sangat-sangat mempesona, diselimuti kabut tipis dan rintik hujan. Selain mata air yang tadi kami datangi, disini juga terdapat sungai yang sangat kecil membelah Lembah Kasih. Tidak jauh dari sungai, di tengah lembah terdapat sebuah plakat untuk mengenang 41 pendaki yang gugur di gunung Pangrango. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di lembah ini, karena kami harus kembali pulang ke Surya Kencana, hujan pun tidak juga mereda. Pukul 13:00 kami bergerak meninggalkan lembah, saya sempat menoleh kebelakang dan bergumam dalam hati bahwa saya pasti akan kembali. Sebuah janji yang suatu hari akan saya lunasi.
Sepanjang perjalanan turun menuju persimpangan Kandang Badak, hujan terus menerus mengguyur kami bertiga. Trek menjadi lebih sulit karena tanah menjadi lebih licin, harus ekstra hati-hati menahan badan agar tidak tergelincir. Kami beristirahat pada pukul 15:30 – 16:00 dekat persimpangan, membuat minuman hangat dan memulihkan stamina untuk mendaki ke puncak Gede. Singkat cerita kami harus melewati lagi Tanjakan Setan dengan medan berbatu yang menyerupai anak tangga yang berantakan, membuat kaki saya mudah lelah. Sekitar pukul 17:30 kami beristirahat di puncak bayangan gunung Gede selama 30 menit. Kemudian pukul 18:30 kami sudah berada di puncak gunung Gede. Ya, untuk kedua kalinya kami menapakan kaki di puncak Gede di hari yang sama. Karena sudah gelap, kami tidak beristirahat di puncak. Perjalanan turun menuju Alun-alun Surya Kencana terasa sangat panjang dan tidak ada habisnya. Tenaga sudah terkuras, yang tersisa hanya semangat untuk sampai di tenda dan melepas lelah. Kami terus melaju secara perlahan tanpa istirahat. Akhirnya kami sampai di Surya Kencana pukul 19:15 dan 15 menit kemudian sudah berada di tenda. Ini adalah perjalanan terpanjang dalam hidup saya dan saya berhasil melakukannya.
Kegiatan kami selanjutnya adalah masak-masak lagi, dan menikmati dinginnya Surya Kencana. Badan yang sudah terasa sakit-sakit menjadi tak terasa karena kepuasan yang saya rasakan. Malam itu saya tidur cukup nyenyak di dalam tenda sempit yang di guyur hujan. Karena pintu tenda sengaja di buka, sekitar pukul 03:00 angin sedikit lebih kencang masuk ke dalam tenda. Akhirnya pukul 04:00 kami terbangun karena Hembushcraft yag tidur di luar terserang hipotermia. Kami lantas berganti posisi, saya menyuruhnya masuk ke dalam tenda. Saya memberinya selimut tambahan dan minuman hangat agar kondisinya kembali normal. Beruntung saya melihatnya sedang kejang kedinginan, dan cerita akan berbeda jika tidak segera ditangani. Mungkin kami harus menghubungi Tim SAR untuk mengevakuasinya, yang jelas akan bikin malu. Kenapa hal seperti itu memalukan? Karena jika terjadi hal semacam itu, artinya kita tidak siap untuk berada di atas gunung. Sebaiknya pendaki mempersiapkan segala sesuatunya secara mandiri, karena setiap pendaki bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Tidak bergantung pada orang lain apalagi Tim SAR, Itu konyol namanya. Di sini kita dapat belajar soal kemandirian. Tidak ada kata darurat, jika kita siap.
Hari ke 3 (09:30-14:30)
Pagi di hari ketiga, kami berniat untuk turun menuju basecamp. Kami sengaja tidak lagi berlama-lama di Surya Kencana karena panas sangat menyengat meskipun tampak mendung di bagian sebelah timur, selain itu kami juga tidak ingin kehujanan dalam perjalanan. Setelah selesai merapikan semua barang, pukul 09:30 kami meninggalkan Surya Kencana bagian barat menuju ke timur. Selanjutnya, tiba di basecamp pendakian Gunung Putri pada pukul 14:30. Seharusnya akan lebih cepat jika kondisi masih cukup baik, sayangnya telapak kaki saya terasa panas dan sangat menyiksa saat melalui trek berbatu, sehingga saya ketinggalan langkah. Selisih sekitar 30 menit dari Hembushcraft dan Nurita yang jalannya paling cepat. Yang jelas bukan soal cepat atau lambat, tapi bagaimana caranya menemukan makna dari setiap perjalanan yang kita tempuh. Dan perjalanan panjang ini menyisakan kenangan baru yang akan terus saya ingat. [Pandu Hidayat, 20-22 November 2018]

Saturday, August 15, 2015

Before The Sun

I believe in coffee, because the sweetness and bitterness is honesty.
I believe in friendship even though it was always nonsense.
I believe in love, as I believe in the arts and humanities.
I always believed in you but no more than I trust myself.

I dont care about freedom, because I am freer than freedom.
I wish for a justice even though I know will never exist.
I gave up on the morning dew, because I missed the warmth of the sun.
I'm going to run over time not to meet destiny, but look for what is supposed to be.

I haven't got a home, dont have a title and I dont have what you have.
I am not as fortunate as they are of the class of wealthy offspring.
but I enjoyed every second in poverty and life without ever respected.
I wasn't as poor as the material that I have and I learned for the rich soul.

Friends and loved ones only when they need each other. Then, what is the meaning of friendship?

Maybe I'm depressed, but more than that I observe you. How to live life, friendship, communicating, keeping promises, respect and humility.
We have to learn about all of it. learning again, learning to be human.

before the sun
panduhidayat_09.08.2015

Thursday, January 8, 2015

Seperempat Dekonstruksi

Deru mengendus derap bercakap santun tak senonoh. Begitupun sunyi selalu malu berkata pada setiap jerit gergaji mesin bergigi tumpul. Aku malu terhadap engkau pucat - sialan sekali kau mempermalukanku setengah putaran. Sungguh tak perlu ada koma saat kisahmu begitu sampah soal norma paranada. Berhala tahu semua kita bercita-cita bahagia seumpama di ujung dunia jembatan rubuh. Ya aku tahu maksudmu berdoa agar dunia tidak mendadak tumpah di atas dosa. Egoismu mendekati kawah magma ubun-ubun yang meleleh busuk meludah-ludah bukan kepalang absurd. Kau terlalu pucat sekalipun ini bukanlah ibu kota dengan keseriusan urban penuh cacat. Mari kita rapalkan A hingga Z lantas kesurupan huruf terakhir di keriput dubur. Terang saja aku gila menguping percakapan buah dan sayur seromantis itu pagi ini. Mengemut puntungan menumpahkan zat asam luka tukak lambung sedikit hangat. Semacam rongsokan besi tua dan puing-puing avantgarde tersenyum murka dalam tubuh instalasi semi mutakhir. Tanah tinggal sampah bercampur amis darah menggigit belatung kuburan kontrak. Menakjubkan seisi dunia maya menjadi semakin organik berlipat kertas kusam tertimpa efek panorama. Aku hanya tak kuasa menyaksikanmu selfie kecepirit lalu berduka di balik koridor. Siapa yang menjadi sarapanku tentu bukanlah kau kawanku ekosistem. Emm tak disangka listrik padam baterai diambang wafat kemudian seisi dunia menjadi muram tanpa dialektika kerdil terkoordinir. Hilang sudah eksistensi para intelektual muda ketika kau mulai cerewet di atas mimbar. Dindingnya retak bersegi-segi atap mengangkat ubin terpenggal acak terlilit dasi. Alangkah anggun karya buatanmu melebihi kolase Hannah Höch yang manis itu. Aku cemburu terhadapmu wahai pucat - sedikit vitamin kupersembahkan untukmu dari ladang sintetik. Kunyah:

c d e f g h i j k l m n o p q r s t q r s t u v w x y z u a b c d e f g h i j k v w c d e f g h k l m n o p q r s i j k l m n x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m r s t u v w x q r s t u n o p q r s t u v w x b c d e f w x y z a b c d e f g h i j k l m f g h i j k l m n o n o p q r s v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p m n o p q w x y z a b c d e f g h r s t u v w x q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t y z a b c d e f g h i j k l m n o p u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m j k l m n o p q r s t u n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q o p q r v r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t q r s t u v w x y z a b c d e f u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l s t u v w x y z m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a n o p q r s t u v w x b c d e f g h i j k l m n o p q r v s t u v w x y z a b c h i j k l m n o p q r s d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b n c d e f g k h i j k x l m n o p q r s t u j v w k l m n o t u v w x y a b c d e f g h i j k l q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t y z a b c d e f g h i z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w a b c d e f g h i j k l m j k l m n o p q r s t u n o p q r s t u v w g h i j k l s t u v w x x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c x l m n o p q r s t u v w x y z d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t q r j k l m n o p u v w x y y z a b c d e f g x l m n o p q r s t u v w x y myakyi znak
PanduHidayat
08.01.2015
Download PDF

Tuesday, December 16, 2014

Penyembah Sepi

Ah, sungguh membosankan malam ini, tidak ada yang dapat kukerjakan selain memandangi setiap sudut ruangan ini, hanya menikmati wine dan menghabiskan berbatang rokok, membuang-buang waktu sampai pagi datang. Sebaiknya aku menceritakan sedikit kisah tentangku, ya lebih baik aku mencoba menuliskannya menjadi sebuah cerita. Kelak suatu saat ada yang membacanya, mungkin kamu atau mungkin aku sendiri yang akan membacanya. Entahlah, aku hanya tidak ingin malamku terlewatkan sia-sia tanpa menghasilkan apa-apa.

Aku hidup seorang diri di sebuah apartemen yang kudapatkan dari seorang kaya yang pernah kuselamatkan nyawanya, tapi aku tidak akan menceritakan kisahnya, karena aku tidak terlalu megenalnya. Aku juga tidak ingin mengenangnya, dan pasti dia sudah bahagia di sana. Aku tidak memiliki keluarga lagi ketika aku bertemu orang itu. Dan mendapatkan sebuah apartemen dan segala fasilitasnya adalah sebuah keberuntungan yang tidak pernah kuimpikan dalam hidup.

Luas ruangan ini setara dengan rumah tiga kamar dan ruangan-ruangan lainnya, tapi tempat ini telah aku rombak dari keadaan semula, tidak ada lagi tembok-tembok penyekat ruangan. Bahkan tak ada sekat untuk kamar mandi, aku hanya memberinya batas dengan batu-batu granit, tirai bambu dan tanaman hias, begitupun dapur miniku untuk sekedar membuat minuman hangat dan makanan ringan. Sedangkan ruang tidur, ruang kerja dan ruang untuk melakukan seluruh kegiatanku semua menyatu tanpa sekat. Ruang apartemen ini menjadi semakin luas, dan aku menjadi lebih nyaman berada di sini, sendiri. Sudah tujuh tahun aku berada di sini, dan tidak pernah sekali pun aku keluar meninggalkan tempat ini, bahkan hanya untuk satu langkah.

Pasti anda tidak percaya dan menganggapku memiliki masalah dengan kejiwaan, mungkin anda benar, tapi aku merasa baik-baik saja dan bahagia menjalaninya. Aku hidup selama ini hanya bergantung pada bisnisku yang kujalankan secara online. Tidak ada yang mengetahui keberadaanku, tidak teman atau siapa pun, kecuali seorang kurir yang kupercaya untuk mengantar dan mengambilkan sesuatu yang kubutuhkan. Orang itu pun tidak mengetahui siapa sebenarnya aku ini, juga sebaliknya. Dia adalah pegawai yang kugaji lebih setiap bulannya, dengan catatan tidak perlu turut campur dengan apa yang kukerjakan dan merahasiakan tentang semua ini.

Tujuh tahun bukan waktu yang singkat, banyak yang berubah di luar sana dan aku tidak lagi mempedulikannya. Semua sudah tidak penting untukku, satu-satunya hal yang membuatku kesulitan adalah ketika terserang penyakit. Aku terpaksa menyiapkan banyak obat, untuk sekedar berjaga-jaga, beruntung sampai detik ini kesehatanku baik-baik saja karena aku rajin berolahraga dan menjaga pola hidup dengan baik. Semua bisa kulakukan di ruangan ini, apartemen yang kutempati sejak usiaku baru menginjak dua-puluh.

Aku bukan pemurung, semua ini kulakukan karena kebetulan dan pada akhirnya menjadi rutinitas untukku, aku merasa bebas dalam ruangan ini, sangat bebas dan aku tidak ingin melepas kebebasanku di luar. Aku adalah seorang wanita muda yang cantik dan penuh semangat. Sebelum aku berada di sini, aku adalah seorang model. Tapi aku lebih memilih hidup seperti ini tanpa kepura-puraan yang selalu menuntutku tampil sempurna, aku tidak benar-benar menyukai dunia modeling dan sebenarnya aku hanya mencoba-coba.

Di suatu malam, sepulang melakukan show, aku menemukan seorang pria tua tergeletak di lobi gedung tempatku bekerja, tanpa seorang pun tahu. Aku membawanya ke rumah sakit dan ikut merawatnya, karena tidak ada kerabatnya yang bisa kukabari. Setelah itu, tanpa panjang lebar pria tua itu mewariskankan apartemen ini, kemudian ia meninggal karena terkena serangan jantung saat terpeleset di kamar mandi rumah sakit. Hanya itu yang kutahu tentangnya, dan sebenarnya aku tidak ingin mengingat kejadian itu. Yang jelas dia orang baik, dengan akhir hidup mengenaskan tanpa keluarga yang mendampinginya. Tapi sudahlah, itu kisahnya. Lupakan saja.

Selain menjalankan bisnis online untuk tetap bisa bertahan hidup, aku mengisi hari-hariku dengan melukis, hampir setiap saat aku melakukannya. Melukis adalah hobi sejak kecil dan kurasa aku memiliki bakat yang kuat, entah dari mana bakat ini kumiliki. Beberapa karya lukisku pernah laku terjual, aku memiliki kenalan seorang kolektor di dunia maya, setelah aku memperlihatkan beberapa foto lukisan yang kupajang di situs pribadiku, dia tertarik untuk membelinya. Hingga saat ini komunikasi kami masih baik, dan kadang setiap bulannya aku dapat menjual dua sampai tiga lukisan. Lukisan lainnya hanya kunikmati sendiri di ruangan ini, hampir setiap sudut sudah penuh dengan lukisan dan gambar-gambar yang kubuat sepanjang aku menempati tempat ini.

Aku juga memiliki hobi lain, aku senang mendengarkan musik. Aku memiliki beberapa alat musik, hanya sekedar untuk bernyanyi dan bersenang-senang, karena aku tidak ahli untuk memainkannya. Beberapa lagu juga pernah aku buat dan merekamnya sendiri di ruangan ini. Aku melakukan apa saja yang membuatku senang, apa saja yang dapat mengusir rasa jenuh ketika kebosanan menyerangku. Membaca buku, bermain game, menonton film, kadang juga menulis. Semua itu kulakukan sebagai rutinitas hidup yang menyenangkan. Tapi aku tidak terbiasa menulis seperti ini.

Dalam hal bersosialisasi dengan banyak orang, aku memanfaatkan berbagai jejaring sosial yang banyak tersedia. Tentu dengan nama samaran, aku dikenal sebagai “Penyembah Sepi”, itulah nama yang kupakai untuk setiap akun jejaring sosial. Aku memiliki banyak teman, dan mereka memanggilku Sepi. Bahkan aku memiliki beberapa sahabat, yang bertahun-tahun tetap intens berbagi kabar dan informasi tentang segala perkembangan. Tapi mereka semua tidak ada yang mengenali dan mengetahui siapa sebenarnya aku, juga bagaimana kehidupanku.

Aku mengaku seorang yang selalu berpindah tempat dari waktu ke waktu. Ini adalah caraku untuk menghindari pertemuan dengan teman atau sahabatku. Banyak di antara mereka yang kecewa karena tak kunjung bisa menemuiku, bahkan beberapa orang memberikan perhatian lebih dan terang-terangan menyukaiku. Mereka hanya sedang terjebak imej palsu yang disadarinya sebagai kebenaran. Semua ini tentang dunia yang tidak nyata, lantas ketika seseorang berharap lebih, maka dia akan tenggelam dengan harapan yang dibawanya dalam kehidupan nyata.

Aku tidak jahat dalam hal ini, aku hanya sedang berperan sebagai Penyembah Sepi, bukan diriku yang sebenarnya. Perihal mereka tidak mengetahuinya, itu bukan urusanku. Tapi aku tetap menganggap mereka sebagai teman dan sahabat yang mengisi satu sisi hidupku yang lain. Dalam kehidupan nyata, aku sama sekali tidak membutuhkan kehadiran mereka. Apakah aku tidak merasa kesepian? Tidak! Aku sudah terbiasa, menikmati sepiku dengan kedalaman, bahkan aku hampir tidak faham bagaimana sepi yang anda maksud.

Apakah kesepian karena tidak memiliki seorang kekasih? Atau mungkin anda mengira, aku pernah dikhianati dan memutuskan hidup seperti ini? Tidak! Justru sebaliknya, aku sering membuat pria patah hati. Aku tidak pernah menyesali apa yang kulakukan dulu dan apa yang kujalani sekarang. Semua adalah cerita yang akan menjadi sejarah, kehidupan yang akan terus berjalan sampai kita kehilangan nafas di dunia ini. Aku siap menghadapi kematianku di tempat ini, lebih baik tidak ada yang tahu sampai waktu mengurai daging-daging dan kulitku, mengelupas menjadi tengkorak yang anggun. Ah apa yang sebenarnya aku katakan ini, aku masih muda untuk sebuah kematian.

Apakah anda mencurigaiku berbohong dan bersandiwara dengan kisahku ini? Percayalah, ini adalah diriku yang sesungguhnya, tapi maaf aku tidak bisa menyebutkan nama dan identitas asliku. Seperti yang anda tahu, aku tidak mungkin melakukannya. Aku tidak ingin ketika cerita ini tersebar, dan sampai ketangan anda, kemudian anda memiliki niat untuk menghampiriku. Ah tidak, aku hanya bergurau, rupanya aku sedang sangat percaya diri malam ini. Hanya saja konsentrasiku sedikit terganggu dengan lukisan yang berada di hadapanku, sosok pria muda yang elegan, entah siapa dia dan bagaimana aku bisa begitu saja melukiskan wajahnya.

Sebaiknya aku lanjutkan kisahku. Beberapa menit lalu aku istirahat sejenak, menghabiskan sebatang rokok di ruang terbuka, semacam balkon. Itulah satu-satunya tempat untuk bertemu udara segar dan sinar matahari. Aku menatanya dengan indah dan asri, juga tanaman-tanaman segar. Aku memang memperhatikan setiap sudut ruangan ini agar tidak membosankan, aku tidak terbiasa berdiam diri, aku selalu ingin bergerak walaupun di ruang yang terbatas ini. Salah satunya dengan mengganti model tata ruang, yang hampir setiap bulan kulakukan. Paling tidak aku bisa memindah tukarkan posisi lukisan satu dengan lukisan yang lain, atau sekedar mengganti tanaman yang sudah mulai layu.

Mungkin anda mengira aku seorang seniman atau pelukis. Bukan, semua itu hanya hobi, hobi menenggelamkan diri dengan ide-ide dan berenang dalam keindahan visual. Aku menemukan imajinasi yang tidak pernah berujung ketika menghadapi lembaran kanvas, mengaduk-aduk cat dan menggoreskan garis-garis. Dan sejujurnya, aku tidak pernah menyelesaikan setiap ide di atas sebuah kanvas. Ya, lukisanku tidak pernah selesai, ini hanya bagian terkecil dari konsep seniku. Sedangkang gagasan awal setiap karya banyak kudapatkan dari bait-bait lagu atau musik instrumental, menyelaminya kemudian menafsirkannya kembali dengan perspektifku sendiri. itu saja.

Komposisi Untuk Saya

Warm..warm..warm..leatherette..warm..warm..warm..leatherette...........................................before you die.......warm...leatherette!* berulang kali nada-dering itu terdengar dari telepon genggam yang diacuhkan oleh pemiliknya. Bahkan membuatnya semakin asyik membaca novel bersampul merah darah. Setelah berjam-jam lamanya, akhirnya novel itu selesai ia baca dan dengan bermalas-malasan tangan kirinya meraih telepon genggam yang terletak di atas meja, di antara tumpukan buku yang tidak tertata. Kemudian ia mulai membaca satu-persatu pesan singkat yang juga sudah menumpuk.

“Temui aku sore ini,” isi salah satu pesan.

Pesan itu terabaian hampir 3 jam. Dengan cekatan jarinya menekan tombol-tombol dengan tergesa. Cepat seperti sudah sangat terlatih. Tidak seperti juru ketik di kelurahan.

“Aku siap-siap dulu ya.”

Detik kemudian, telepon genggam itu bergetar lagi, “Ya, aku tunggu!”

Kebetulan tempat biasa mereka bertemu tidak jauh dari rumahnya. Semacam kedai dengan taman buatan yang menyatu dengan galeri seni milik seorang perupa. Cukup dengan berjalan kaki untuk sampai ketempat itu. Setelah menginjakkan kaki di rerumputan yang menghampar pada hampir seluruh area taman, matanya tertuju pada sebuah meja paling pojok. Seorang lelaki sibuk membolak-balik halaman koran terbitan lokal yang ada di meja dan baru saja menatap kearahnya. Namanya Anda.

Saya tersenyum dan melambaikan tangan, lelaki itu membalas senyum manis dari sosok wanita yang sore itu mengenakan kaos hitam bergambar RA Kartini dengan tulisan provokatif di bawahnya ‘She’s Not Your Mother’ tampak dari balik kemeja flannel merah-hitam yang tak dikancingkan. Potongan Jins super pendek warna abu, stocking hitam dan boot kesayangannya. Tidak lupa tas kulit yang selalu dibawanya untuk menaruh buku kosong dan barang-barang penting. Rambut panjangnya tergelung cantik dengan satu tusukan pinsil berwarna kayu. Lebih cantik dari cetakan gambar di kaos itu. Bahkan tanpa berdandan.

“Sori..sori,” suaranya mendekat.

Anda adalah sahabat Saya sejak sekolah dasar hingga menyelesaikan kuliah di Universitas yang sama. Saya pernah tercatat sebagai seorang mahasiswi sastra, sedangkan Anda menekuni bidang seni rupa. Mereka tercatat sebagai mahasiswa berprestasi dan kreatif. Bahkan keduanya menyelesaikan kuliah dengan uang beasiswa.

Tak lama Saya sudah duduk berhadapan dengan Anda di meja yang sama, sekeliling hanya terlihat pepohonan dan tanaman bunga yang segar terawat, satu sisi lainnya berhadapan dengan jalan yang sepi di jantung kota. Hanya pejalan kaki yang sering terlihat melintasi jalanan lengang itu. Begitu tenang dan menyegarkan suasa, karena sang pemilik cukup jeli mendesain taman ini sedemikian rupa. “Tidak hanya demi kenyamanan tapi lebih kepada estetika” sebut sang pemilik. “Taman ini adalah karya tiga dimensi” dengan penekanan yang berlebihan ketika ia mengatakannya.

Saya memulai pembicaraan dengan perasaan sungkan, gestur tubuhnya mengisyaratkan rasa bersalah karena terlambat membaca pesan Anda sedari siang. 

“Sudah lama ya? Aku sedang membaca novel tadi!”

“Ah selalu, novel apa yang kamu baca kali ini?”

“Konflik kaum kiri yang berujung pada pembunuhan massal.. Bagus, penulis novel itu cukup cerdas mempermainkan emosi pembaca masuk kedalam detail, selain karena kisah nyata.”

Sebenarnya Anda tidak terlalu tertarik mengetahui isi novel itu lebih-lebih politik, dan pertemuannya dengan Saya kali ini tidak untuk membahas novel itu. Dia hanya bersikap antusias untuk memuaskan sahabatnya.

 “Boleh aku pinjam?”

“Hmmmm sejak kapan kamu baca novel?.. Bukannya kamu lebih senang membaca buku sejarah ya? Sejarah yang melewati berbagai revisi maksudku! hahahaa”

“Barusan saja.. tiba-tiba.”

Anda menghisap dalam-dalam rokok kesukaannya sambil tertawa membenarkan perkataan Saya tadi dan kembali bicara untuk membuka topik lainnya.

“Aku sudah memesan kopi dan roti bakar.”

“Bir dingin ya. Tambah es batu,” teriak Saya pada seorang pelayan, kemudian mengeluarkan sebungkus rokok mentol dari dalam tas dan mulai membakarnya.

“Sibuk apa akhir-akhir ini?” tanya Anda datar.

“Seperti biasa. Menyelesaikan naskah novelku karena pihak penerbit sudah mulai cerewet.. Oo iya akhir pekan ini aku ada jadwal pentas.”

Selain bekerja dalam dunia kepengarangan yang telah mempublikasikan beberapa buku kumpulan puisi  dan novelnya secara nasional melalui penerbit ternama, Saya juga populer sebagai musisi bahkan melebihi kepopulerannya sebagai penyair muda. Syair yang dibuatnya selalu melukiskan tentang semangat hidup, ia menulisnya melalui berbagai metafor berbau surealis. Semuanya lebur dengan musik yang dibuat dan dimainkannya sendiri. Saya kerap menyebut musiknya dengan istilah  teks-berbunyi’, istilah karangannya untuk menghindari sebutan musikalisasi-puisi yang kerap dilabelkan banyak kritikus abal-abal padanya. Aku adalah ‘the future of female noise’** ketika media menanyakan perihal jenis musiknya. Pernyataan tadi selalu di akhiri dengan senyuman sinis, menandakan semua istilah itu hanya omong kosong baginya. 

“Kamu ada waktu kan akhir pekan ini?” Saya berharap Anda akan datang.

“Ya tentu, aku pasti datang.. Tapi untuk melihat pamerannya, bukan melihat aksimu yang gila itu!”

Tawa pun pecah di antara keduanya, melupakan luka permanen dalam jiwa mereka. Tidak ingin terlarut, Anda mengambil telepon genggam di saku jaket dan mulai memilih koleksi lagu yang dimilikinya. Anda memutarkan Come Away With Me dari Norah Jones menggunakan pengeras. Lagu itu merupakan lagu favorit mereka. Semacam anthem untuk mereka berdua. Mengingatkan masa-masa sulit ketika mereka harus menjadi pengamen cafe dengan bayaran yang tidak cukup untuk membiayai hidup, sehingga mereka harus mencari tambahan dengan mengamen dari warung ke warung di pusat kuliner.

Sepanjang lagu yang cukup pendek itu Anda melamun jauh. Membayangkan apa yang akan terjadi di akhir pekan nanti, ia teringat setiap pertunjukan Saya selalu berakhir dengan buruk. Anda tahu betul kekurangan sahabatnya. Saya tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup, hal ini salah satu penyebab ketergantungannya dengan obat bius. Anda khawatir akhir pekan nanti Saya akan mengekploitasi dirinya sendiri karena harus berdiri di hadapan banyak orang dalam keadaan tidak sadar. Emosinya sering meledak-ledak dan dia sama sekali tidak mampu mengendalikannya. Saya hanya pura-pura bersikap normal di balik kepribadiannya yang sangat menderita karena menjadi fokus utama di antara ratusan mata dan puluhan lensa yang membidiknya. Menghubung-hubungkan kepopuleran Saya dengan ketergantungan obat bius adalah headline yang akan kita jumpai di berbagai media keesokan-harinya. Tidak lagi berita tentang karyanya, tapi lebih pada aksi spontan Saya saat sedang mabuk di sebuah panggung pertunjukan.

“Apa yang kamu pikirkan? apakah kamu memikirkan aku seperti pada pentas-pentasku sebelumnya?.. hmm.. semoga saja tidak banyak wartawan yang datang! Kamu tahu aku tidak suka itu.. Dan aku tidak akan menyiram mereka dengan segelas wine seperti yang kamu lihat kemarin, apalagi membakar al-kitab. Tapi entahlah apalagi yang akan kulakukan besok, mungkin aku akan mencium semua wartawan yang datang mencuri berita!”

“Hmm, tidak.. aku tidak berpikir apapun!”

“Sejak kapan kamu tertutup seperti ini?, apa yang sebenarnya kamu pikirkan?” Saya menangkap sesuatu yang aneh dan mendengar kebohongan dari suara Anda yang tertahan.

Tiba-tiba Anda menjadi kaku dan sulit berkata-kata, “ah tidak, aku hanya ingin melihatnya.. jadwalmu sepertinya semakin padat saja!” Dia bahkan berpikir untuk membatalkan niatnya seperti semula saat mengundang Saya datang ke kedai.

Saya berkomentar lebih serius karena dia tahu betul Anda sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

“Kapanpun kamu membutuhkan teman, aku akan selalu ada untuk menemani dan mendengarkan masalahmu. Ada masalah apa denganmu?”

Anda semakin tersudut menghadapi kecurigaan sahabatnya. Beruntung pelayan datang membawa pesanan mereka, pelayan itu bernama Nina yang sudah mereka kenal, kedatangannya sedikit mengaburkan ucapan Saya tadi.

“Nin tolong tempel pamflet ini di kedai. Kalau akhir pekan kamu libur, datang ya!” ucap Saya sambil memberikan pamflet acara yang sengaja dibawanya dari rumah.

“Oh ya ya, aku pasti datang Mbak.. ada tambahan lain?”

“Tidak!” jawab Anda. 

“Tidak, terima kasih ya Nin.”

“Sama-sama Mbak!”

“Yakin tidak pesan makanan? Memangnya sudah makan di rumah?” Anda menegaskan tawarannya.

Saya bersikap acuh dan hanya menggelengkan kepalanya lalu membakar rokok mentolnya untuk kedua kali.

+++
Matahari terbenam di balik belukar hampir pukul enam. Anda belum juga bicara yang sebenarnya, mengapa ia mengundang Saya sore ini. Saya kemudian pergi ke arah belakang kedai, di sebuah toilet ia mulai mengkonsumsi obat bius, dan dalam hitungan menit kondisinya berubah drastis. Anda tahu betul apa yang Saya lakukan, karena ia pernah mengalami penderitaan yang sama. Beruntung Anda berhasil sembuh setahun yang lalu karena tekadnya, dengan mengikuti berbagai terapi. Tapi tidak untuk sahabatnya, Saya harus tetap menjadi pemakai bahkan ketergantungannya semakin parah.

Selang beberapa saat Saya kembali duduk di hadapan Anda dengan tatapan mata sayu dan berulang kali menyentuh hidungnya yang sedikit memerah, kadang menggaruknya pelan. Anda memandang dengan kesedihan. Berpikir keras bagaimana ia bisa menyembuhkan sahabatnya itu. Berbagai cara telah dilakukan tapi belum menghasilkan perubahan.

Anda kembali bertanya kepada Saya yang sedari tadi hanya terdiam dan menikmati perubahan dalam dirinya.

“Apakah kamu tidak berniat untuk mengakhiri penderitaanmu ini?”

Saya memandang lebih dalam dan menghela napas yang teramat berat. Seberat suara dan hidupnya.

“Tentu aku ingin! Tapi kamu tahu betul bagaimana kondisiku.”

Kepalanya tertunduk pasrah. Tapi tiba-tiba ia kembali bersikap normal seolah menyatakan dirinya baik-baik saja, mencoba menahan airmata dengan menghisap rokok yang tidak pernah lepas dari tangannya yang gemetar. 

Wajahnya pucat pasi dan bibirnya mengering. Garis-garis wajahnya dapat kita pahami sebagai penderitaan yang cukup panjang. Saya melakukan ini bukan tanpa alasan. Sejak usianya belum genap limabelas tahun Ayahnya yang berdarah Jepang sudah meninggal, ia hidup bersama ibunya yang sering pulang terlampau larut dengan alasan bekerja. Saya harus hidup lebih keras dibandingkan teman seusianya, ia mendapatkan uang dengan berbagai cara karena ibunya tidak mencukupi kebutuhannya. Saat itulah ia mulai mengenal Anda lebih dekat karena mereka memiliki kegemaran serupa dalam bidang seni dan obat bius.

Hari semakin gelap, hanya lampu taman yang menjadi penerang di beberapa sudut kedai yang terhalang batang-ranting pohon. Sementara makanan dan minuman pun sudah tak tersisa.

“Kamu mau pesan lagi?”

Saya hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian Anda kembali bicara, kali ini dengan sikap lebih  serius dan mencoba meyakinkan.

“Sebenarnya ada sesuatu untuk kamu, jika tidak keberatan aku akan menunjukannya padamu di rumah.”

Saya memandang curiga sekaligus bahagia, karena tidak biasanya Anda seperti ini.

“Wah.. aku mau, sekarang juga kita kerumahmu! Sepertinya sebentar lagi hujan.”

Mereka pergi dengan motor tua milik Anda. Untuk sampai ke rumah Anda membutuhkan waktu sekitar 30 menit melalui jalan alternatif melewati gang-gang sempit di antara rumah penduduk. Dalam setengah perjalanan tiba-tiba hujan turun lebih cepat dari yang mereka kira, seketika pula pakaian mereka menjadi basah.

“Tidak ada mantel ya?”

“Tidak,” terang Anda sambil mencari tempat berteduh.

Akhirnya mereka melihat sebuah teras rumah tanpa penghuni di tepi jalan, mereka sepakat untuk berteduh di rumah itu, dalam keadaan basah kuyup Saya mulai menggigil dan mengorek-ngorek isi tasnya yang juga basah.

“Tubuhmu gemetar, apakah obatmu sudah habis?”

“Ya, uangku sudah habis.. obat dari dokter juga habis,” Saya terdengar  putus asa.

Anda kembali menyalakan motornya dan memerintahkan Saya untuk segera naik. Kali ini Anda memacu motor tuanya dengan kecepatan penuh menembus deras hujan. Tujuannya adalah rumah, dia tidak sanggup melihat Saya menderita dengan ketergantungannya di pinggir jalan. 10 menit kemudian mereka sampai di sebuah rumah  tua yang masih gelap. Di rumah yang sederhana itu Anda tinggal seorang diri karena keluarganya memilih tinggal di luar negeri, di mana Ayah dan Ibunya menjalankan bisnisnya, sedangkan Anda memilih hidup mandiri. Saya sudah tidak merasa asing seperti seorang tamu karena ia sudah menganggap rumah ini sebagai rumah kedua untuknya. Sebagian puisinya pun ditulis di rumah ini.

Anda segera mengambilkan handuk untuk Saya. “Keringkan tubuhmu, ganti pakaianmu. Pilih saja di almari!” kemudian dia pergi dengan sepeda motornya. Anda pergi menemui seorang bandar obat bius di mana Saya sering mendapatkannya. Beruntung bandar itu juga mengenal Anda, dan dengan mudah ia pun mendapatkan satu paket obat bius yang dibutuhkan sahabatnya. Setelah barang itu di tangan, dia bergegas pulang di bawah deras hujan yang belum juga reda.

+++
Anda mendapati Saya sudah tersungkur di antara almari kayu dan kasur yang membentang di sudut kamar. Saya sudah kehilangan keseimbangan karena harus menunggu hampir limapuluh menit demi mendapatkan obat bius itu karena lokasinya cukup jauh dari rumah Anda.

Saya terjatuh saat sedang berusaha mengenakan pakaian ganti dan hanya berhasil mengenakan kaos berukuran besar berwarna putih milik Anda. Badannya menggigil lebih kencang dari sebelumnya, ucapannya pun sudah tidak dapat dimengerti ketika Anda mengangkatnya ke atas kasur, tapi Anda tahu apa yang harus ia lakukan hanyalah memberikan obat bius itu secepatnya. Dia sadar betul yang dilakukannya adalah suatu kesalahan, tapi lagi-lagi dia tidak memiliki pilihan selain melakukannya. Sangat tidak mungkin untuknya membiarkan Saya sekarat kesakitan atau membawanya ke rumah sakit tanpa penanganan lebih lanjut. Karena dokter hanya akan memberikan obat bius dengan jenisnya yang lain. Banyak pertimbangan ketika menghadapi situasi seperti ini, pertanyaan demi pertanyaan menumpuk sampai Saya berangsur pulih.

“Apakah kamu semakin membaik?”

“Lumayan, makasih ya.” Saya mulai bicara dengan lebih baik.

“Pakailah baju yang lebih tebal.. udaranya dingin!”

“Ah, ini sudah cukup nyaman”

“Kamu terlihat lebih seksi seperti itu”

Anda menggoda sahabat yang baru saja diselamatkannya. Saya hanya tersenyum mendengarnya, lalu mulai menyentuh rambut panjangnya yang jatuh terurai, sedikit kusut.

“Tolong ambilkan rokok mentolku?”

“Rokok mentolmu basah di dalam tas, barang-barangmu yang lain juga. Sedang kukeringkan!.. Aku beli di warung depan kalau kamu mau?”

“Tidak perlu.” Wanita itu menjawab cepat.

“Hisaplah untuk sementara waktu,” Anda menyodorkan rokok yang tersisa.

Saya terlihat tidak tertarik, lantas merebahkan tubuhnya lagi di atas kasur, tidak risih dengan yang dikenakannnya walaupun dia tahu bahwa kaos itu cukup transparan. Bahkan Anda untuk pertama kali dapat melihat tato jantung dengan sayap berwarna biru yang memenuhi sebagian dada gadis oriental itu. Indah. Saya menatap langit-langit kamar, menerawang menembus gelap di baliknya. Nafasnya terengah, lelah. 

“Mana? Aku ingin melihatnya!”

Sementara itu Anda sudah berada dalam ruang kerjanya. Kemudian meminta Saya untuk masuk ke dalam ruangan itu. Piano tua peninggalan kakeknya yang seorang pianis berada di tengah ruangan, 3 buah mikrophone menggantung dari langit-langit, sebuah komputer terlihat menyala di belakang piano dan 4 buah speaker berukuran sedang di setiap sudut ruangan dan tumpukkan kertas di atas kursi. Ruangan ini terlihat telah di tata-ulang. Cahaya di ruangan itu cukup gelap karena hanya ada sebuah lampu sorot berwarna biru tepat di atas piano, cahayanya memantul redup dari badan piano yang terkena cahaya.

Saya semakin diselimuti kebingunan, apa sebenarnya yang akan Anda lakukan, namun ia tidak lagi bertanya dan hanya duduk terdiam di sudut lain ruangan itu sambil terus menatap ke arah Anda dan sesekali ke arah lainnya. Anda memberikan selembar kertas dan meminta Saya untuk membacanya sekehendak.

Tanpa aba-aba, tangan Anda mengambil selembar kertas yang terlihat berupa partitur karya-karya musik dari atas kursi menghadap piano. Anda meremasnya dan melemparkannya ke dalam piano yang terbuka tepat mengenai senar-senar piano yang semula tenang pada ketegangannya masing-masing. Keheningan pecah seketika, berganti suara-suara aneh yang terdengar dari tindakan tersebut. Suaranya lirih, kadang sedikit keras, bahkan suara-suara itu terjadi secara kebetulan akibat benturan-benturan kertas di antara bentangan senar. Sementara Saya membaca baris demi baris tulisan tangan tanpa judul di antara gelap:

“memompa kesadaran dengan luka di lenganku
menyadari bahwa semua telah menjadi gila
apa yang dilakukan olehnya, juga olehku
dan kalian tentu saja, mungkin.

pelan dalam kecepatannya. cepat melambat.
kecepatan sering terlambat. Kadang.

nada pertama melantun bijak,
nada selanjutnya butuh kejelian.
nada pertama melantun bijak,
nada terakhir jatuh terlambat.

pengulangan adalah kebosanan sejuta makna
berputar-putar mengeliling - berkeliling pada putaran.
darah mengering hitam. suram melebam.
roti tawar; lagi. memompa kesadaran menjadi gila.”***

Satu-persatu bahkan beberapa lembar sekaligus, kertas itu dilemparkan ke dalam piano dengan sangat yakin. Jumlahnya puluhan. Anda melemparkannya dengan tempo acak, kadang konstan kadang dengan jeda yang cukup panjang untuk memberi kesempatan bunyi hujan terdengar riuh berhimpitan dengan emosi Saya saat membacakan tulisannya. Suasana di ruangan itu hampir tidak dapat terlukiskan terlebih menuliskannya secara lisan. Menterjemahkannya adalah sia-sia, cukup mendengarkannya sebagai pengalaman. Pantulan-pantulan samar datang silih berganti, mengepung dari setiap sudut. Seolah dinding-dinding saling beradu bicara. Ini bukan halusinasi karena Saya menggunakan obat bius, tapi karena Anda telah mengkondisikan komposisinya sedemikian rupa sehingga membawa siapa saja yang berada dalam ruangan itu akan mengalami situasi yang benar-benar absurd. Sampai tumpukan kertas itu tak tersisa maka selesailah sudah. Kesunyian bersambung hela napas kepuasan. Hening.

Anda memandang Saya yang terlihat masih terbawa suasana, bertanya-tanya dalam hati apa maksud semua ini.
“Karya ini untuk kamu!”

Saya semakin tidak mengerti dan tetap diam terkesima menatap lurus ke arah piano mencerna kata-kata.

“Sudah, tidak perlu dipikirkan.. pertunjukan sudah selesai!” Anda bicara lebih ringan. 

Saya masih dalam kebingungannya, tidak dengan karya sahabatnya. Tapi dengan maksud  perkataannya dan mencoba menyimpulkan kejadian malam ini.

Anda menggiring suasana lebih cair, “mau minum apa? akan kubuatkan teh hangat jika kamu mau dan kita bisa mendiskusikan karyaku tadi.” Saya hanya mengangguk setuju.

Anda pergi untuk membuatkan minuman, seketika pula rasa penasaran Saya menuntunnya kearah piano dan mulai mengambil kertas-kertas di dalamnya. Saya membuka dan meluruskan kembali kertas-kertas itu, ia sangat tidak percaya bahwa dalam kertas partitur itu tertera judul karya yang sama sekali tidak dibayangkannya. Karya itu berjudul Piano Piece For Saya #11, Saya membuka kertas lain dan membacanya. Kali ini berjudul Piano Piece For Saya #4, kertas ketiga berjudul Piano Piece For Saya #7 dan medapatkan nomor berbeda pada lembar lainnya, semuanya tertulis lengkap dengan keterangan-keterangan. Puluhan kertas masih berserakan dan belum ia sentuh ketika langkah kaki Anda mendekat.

Entah perasaan seperti apa yang dirasakan oleh Saya, hatinya luruh dan matanya yang agak sipit tidak tahan lagi membendung airmata. Ketika Anda meletakkan minuman dan baru saja ingin mengatakan sesuatu, Saya memeluk Anda dengan perasaan ganjil. Anda hanya diam dan merasakan keganjilan yang sama.

Tubuh Saya lebih dingin dari biasa, mungkin dia demam akibat guyuran hujan atau karena pengaruh obat bius.

“Minumlah tehnya selagi hangat dan makan roti itu, lalu istirahatlah.”

Saya menurutinya karena dia merasakan tubuhnya tidak dalam kondisi baik untuk pulang dan hujan semakin lebat di luar. Menit kemudian Saya sudah terbaring lagi di kasur, Anda menyelimuti tubuhnya yang rapuh. Wajah cantiknya menderita. Pucat. Seperti tidak ada darah yang mengalir.

“Tidurlah di sampingku, dingin sekali rasanya.”

“Ya,.. tapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku terlebih dulu.” Anda pergi meninggalkan kamar dan mematikan lampu.

Saya selalu bangun lebih awal dari ayam jantan, Anda tidur di ruang tamu dengan televisi yang masih menyala. Sepertinya dia kelelahan dan memiliki pikiran yang cukup berat sampai sesekali Saya mendengarnya mengigau samar.

Seperti biasa Saya mengawali hari-harinya dengan segelas air putih dan obat bius. Dan semuanya sudah disediakan oleh Anda di sebuah meja dekat dapur. Tanpa berpikir panjang Saya memenuhi kebutuhan biologisnya. Dalam satu hari Saya harus mengkonsumsi sebanyak tiga kali bahkan sampai empat. Obat bius itu telah menggerogoti tubuhnya dan dia merasa normal hanya ketika di bawah pengaruh obat itu, selebihnya adalah kesakitan.

Matahari menunjukkan sinarnya yang pertama di halaman depan, Saya bergegas pulang untuk kemudian mencari obat lainnya, sementara itu Anda masih terlihat nyenyak.

Satu jam berselang keramaian sudah dimulai, derap langkah pejalan kaki dan kendaraan bermotor silih berganti membuat kebisingan di depan rumah membangunkan Anda. Saya meninggalkan pesan  di atas televisi:

“Temui aku sore ini.”

+++
Sore hari di tempat yang sama dengan situasi yang berbeda mereka berhadapan tanpa suara. Saya terlihat lebih segar ketimbang semalam. Asyik menenggak Bir dingin dan menikmati rokok mentolnya. Anda hanya memutar-mutarkan cangkir kopinya berderit. Mengganggu.

“Apakah kamu pernah berpikir untuk mementaskan karyamu itu?” Saya membatalkan kebisuan.

“Tidak!”

“Kenapa tidak?.. Kita bisa memainkannya di pentasku besok, di galeri itu ada sebuah piano yang tidak pernah di mainkan. Aku bisa minta panitia untuk menyediakan yang kamu butuhkan. Bagaimana?”

“Aku sudah membakar kertas-kertas itu. Dan setelah tadi malam, karyaku sudah selesai!”

Sekali lagi Anda membuat Saya mengalami kekacauan. Kehampaan menyerang seketika bersama harapannya yang pudar, tapi dia masih menyisakannya. Sedikit keyakinan, ada alasan.

“Jadi kamu sudah tidak mencintaiku lagi setelah tadi malam?!”

“Apa maksudmu? kamu baik-baik saja kan?”

“Tentu aku baik-baik saja!, aku sudah memiliki obat untuk beberapa hari kedepan dari honor tulisanku.. jawab pertanyaanku?!” 

“..Mbak!”, tiba-tiba saja suara wanita pejalan kaki menyela pembicaraan sambil melambaikan tangan kearah Saya juga Anda ketika mereka menoleh.

“Hei, mau kemana?” Saya tampak tetap ramah menjawab, sedangkan pikiran hatinya sedang sangat kacau.

“Ke toko buku Mbak. Mau tukar nih ada halaman yang hilang!.. Besok lusa manggung ya Mbak? Main jam berapa?”

“Yah, lain kali di cek dulu kalau beli..  Jam delapan, datang ya!”

“Siap Mbak, aku duluan ya.. keburu tutup.”

Wanita itu melanjutkan tujuannya. Berjalan lebih cepat sambil menggerutu kearah toko buku yang tidak jauh dari kedai. Sementara Anda menahan kata dalam jeda.

“Aku mengenalmu seperti aku mengenal diriku sendiri, kamu pasti sembuh.. kita akan melewatinya bersama”

Saya salah mengartikan maksud ucapan Anda. Perasaan yang selama ini terpendam seperti menemukan harapan lebih. Ia memberanikan diri untuk kembali bertanya dengan suara yang parau: “apakah kamu akan tetap menuliskan komposisi untukku ketika aku menjadi kekasihmu?”

“Berapa banyak obat yang kamu konsumsi hari ini?.. Bicaramu melantur!”

Long-dress berwarna cerah bercorak bunga-bunga yang dikenakan Saya tampak semakin kontras dengan warna kulit wajahnya yang putih pucat. Kekacauan kembali menjalar cepat. Tatapnya hampa, matanya berkaca-kaca. kali ini Saya benar-benar tidak mengenali Anda, sahabatnya sejak kecil.

Kecantikan, kecerdasan dan kepopuleran Saya membuat semua lelaki ingin menjadi kekasihnya. Mungkin lebih. Walau pun beberapa pria yang pernah menjadi pacarnnya selalu meninggalkannya begitu saja setelah mengetahui latar belakangnya yang gelap. Saya lebih mencintai dirinya sendiri ketimbang siapapun. Perasaannya berbeda untuk Anda, Saya betul-betul mencintainya sebanding dengan kecintaannya pada diri sendiri. 

“Maafkan aku.”

“Untuk apa?, kamu sama sekali tidak salah.. lupakan perkataanku tadi.”

“Hanya saja aku tidak bisa.. tidak mungkin untukku!”

“Sudah, lupakan aku bilang!” Saya sangat kecewa. Airmata menggaris di pipinya.

Warm..warm..warm..leatherette..warm..warm..warm..leatherette...........................................before you die.......warm...leatherette! nada-dering itu terdengar aneh dari dalam tas kulit di atas meja kedai. Kali ini pemiliknya mengacuhkannya karena merasa tidak ada kepentingan untuk mengangkatnya. Saya tidak pernah peduli dengan siapa pun yang menghubunginya melalui telepon genggam itu. Kecuali Anda. Tapi tidak seorang pun setelah sore ini. Bahkan ia akan merubahnya menjadi nada-sunyi sebelum lagu itu kembali menusuk-nusuk tajam di telinga.

Betapapun Anda mencintai Saya, dia tidak berniat menjadi kekasihnya. Penderitaannya lebih berat dari sahabatnya, tapi sampai sore itu Saya tidak mengetahuinya. Anda teridentifikasi mengidap HIV-AIDS akibat sering berbagi jarum suntik dengan banyak orang. Hal ini yang mendorong Anda untuk berhenti mengkonsumsi obat bius agar tampak terlihat sehat di mata sahabatnya. Berharap hidup lebih panjang bersama Saya.

Catatan:
*1) Penggalan lirik: Chicks On Speed, Warm Leatherette.
*2) Penggalan judul: Nina Power, Women Machines: the Future of Female Noise. Noise & Capitalism. Arteleku, 2009.
*3) Prosa-bebas: Kesadaran Gila. Pandu Hidayat. Unpublished, 2012.
PanduHidayat, Yk – 2012